Sunday, September 2, 2018

PENGUMUMAN

Sehubungan dengan kemudahan dalam menulis, blog ini pindah ke ruangerak.blogspot.com.

Sila berkunjung, saya sebagai tuan rumah dengan sangat senang hati menerima :)

Saturday, November 18, 2017

Review Buku HOP! Produksi Rabbit Hole ID

Halo,

Mungkin di sini sudah banyak yang punya buku produksi PT. Lubang Kelinci Indonesia, saya sih baru punya satu dan itu dikirim oleh adik ipar dari Jogja (((GRATISAN)))

Sebenarnya sudah lama tertarik sama buku-bukunya, namun harganya yang mencapai lebih dari 100ribu per buku membuat saya tarik ulur untuk membelinya. Karena bisa mendapat beberapa buku  konvensional dengan harga yang sama, hehehe

Sampai suatu hari adik ipar tanya kalau Azka mau dikirimin apa. Langsung saya jawa: BUKU!! Dan dikirimlah buku dari @rabbitholeid yang berjudul HOP!.

Buku ini menceritakan siklus hidup manusia dan hewan. Seperti, dulu ayah dan ibu juga pernah menjadi bayi, anak kecil, orang dewasa, lalu menikah. Ada juga siklus hidup ikan yang berasal dari telur, ikan kecil, ikan "remaja", dan ikan dewasa. Di halaman lain tertulis bahwa kupu-kupu asal mulanya adalah ulat yang berubah menjadi kempompong, baru lah menjadi kupupu. Ada juga siklus hidup monyet.

Tidak ada yang luar biasa dari ceritanya, hanya keunggulan produk rabbit hole ini adalah tampilannya. Selain merupakan board book dengan tinta yang awet, bukunya dilengkapi fitur dorong-tarik-putar-geser. Sehingga anak-anak bisa menggeser-geser yang tandinya anak cewek setelah fiturnya digeser berubah jadi laki-laki.


Alhamdulillah Azka tertarik buku, hanya saja fitur di buku ini membuatnya tertarik terus, bahkan sesaat setelah bangun di pagi hari. Ini dia senyumnya. Masih memakai baju tidur, belum mandi, yang dicari buku @rabbitholeid. Yang penasaran, sila buka instagramnya saja. Sepertinya sudah banyak reseller di berbagai kota. Ngirit ongkir, hehehe



Salam hangat,

Astri



DIY Mainan Something

Halo,

Sudah lama sekali ini ingin ditulis. Namun apa daya tidak pernah kesampaian. Padahal anak baru satu ya, hahaha

Di suatu siang, ketika bingung mau memberikan hiburan apa untuk Azka, akhirnya saya menurunkan karpet Dance Dance Revolution (DDR). Niat hati ingin olah raga bersama Azka.

Oh iya untuk penjelasan, karpet ini fungsinya sama dengan permainan Dance yang ada di Timezone dan sebangsanya. Namun bisa dilakukan di rumah hanya dengan menginstal CD permainan DDR-nya dan menancapkan karpet ini ke laptop.

Ekspektasi saya ketika membeli karpet ini adalah bisa aerobik di rumah. Badan sehat, hati pun senang. Hanya saja, seelah barang datang ternyata tidak seperti yang saya lihat di review produk. Di sana tertulis menginstal CD dan mengaturnya mudah. Tapi tidak untuk saya. Sulit untuk mengatur level dance yang diinginkan, sehingga yang muncul selalu permainan dengan tempo super cepat dan mungkin hanya bisa diikuti oleh dancer profesional.

Akhirnya, mau tidak mau karpet ini hanya teronggok tak berfungsi. Ada niat ntuk mengutak-atik menjadi mainan baru namun belum ada ide, sampai siang itu Azka  membuat mainan dari idenya sendiri.

Ketika itu dia mengambil tutup lem fox PVAC dan tutup gelas. Lalu mengajak saya dan berkata, "Mi, ayo ini pukul-pukulan kayak yang ada di STC".

"Kok pukul-pukulan?", saya kaget karena tidak pernah ada permainan pukul-pukulan yang saya perkenalkan

"Ini lho Mi yang kayak gini", dia mencontohkan

Ini malam harinya, sepulang kerja suami

Barulah saya mengerti. Yang ia maksud adalah mainan semacam tenis yang banyak terdapat di area permainan seperti Timezone. Kunci dari permainan ini adalah meja yang licin karena bisa membuat "bola" mudah untuk bergeser. Di area permainan sendiri, saya amati ada semacam magnet yang akan aktif setelah kita menggesek kartu. Kembali tidak aktif setelah permainan berakhir. Saat aktif "bola" akan mudah meluncur, saat tidak aktif "bola" sama sekali tidak dapat meluncur. Tidak disangka karpet DDR ini memiliki tingkat kelicinan yang tinggi, sehingga tutup lem fox PVAC bisa melesat dengan mudahnya. Kami pun bermain dengan riang. Azka lumayan betah memainkan ini dan diulang-ulang berkali-kali. Beda dengan mainan yang saya buat, paling lama lima menit lalu dilupakan, hahaha

Itu lah sebabnya saya yang suka crafting kadang malas-malasan membuat permainan karena anaknya sendiri suka buat mainan  yang lebih diminati, haha.


Salam hangat,

Astri

Plesetan

Halo,

Akhirnya mengisi lagi di blog ini setelah hampir dipenuhi sarang laba-laba, haha.

Postingan kali ini tidak ada fotnya karena terjadi begitu saja. Terkadang waktu memasa atau sedang di atas motor, atau sedang makan. Posisi yang sedang tidak memegang ponsel.

Di Jogja, istilah plesetan sudah akrab di dengar. Mungkin di daerah lain juga sudah, hanya saja di percakapan sehari-hari masyarakat Jogja umumnya diselingi dengan plesetan. Bahkan kalau di rumah saya bisa terjadi sewaktu-waktu dan akan semakin ramai pada jam makan karena satu keluarga berkumpul di meja makan, saling bercengkrama.

Mengubah suatu kata menjadi kata lain yang mirip-mirip adalah definisi dari plesetan. Misalkan seperti pada percakapan si A dan si B berikut:

A: Heh B, kamu bawa cemilan apa?
B: Aku bawa cemilan, cepuluh, cebelas

Dan kalau di Jogja ini bisa bersambung terus-menerus. Hiburan gratis sekaligus melatih kreatifitas, hehe.

Di rumah saat ini, kami ya kadang-kadang menggunakan plesetan untuk intermeso obrolan. Lucunya, Azka bisa membuat plesetan sendiri yang saya juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan ide. Berikut beberapa contoh yang saya ingat ya. Azka (A) dan saya (M):

A: Mami, ini yang untuk buat pensil supaya nggak bujel (tumpul/patah) namanya apa?
M: Peraut
A: Kok dia kerjanya di Rumah Sakit?
M: Itu perawat
A: (((tertawa)))

dialog lain

M: Wah jam segini gelap gulita sudah ya. Biasanya kalau nggak mendung masih terang-terang aja
A: Gulita artinya apa Mi?
M: Gelap gulita artinya gelap sekali
A: Gulita yang binatang tangan banyak itu?
M: Itu gurita
A: (((tertawa)))

dialog lain lagi

A: Mami ini galonnya bisa ditiup? (sambil membawa galon kosong)
M: Yang ditiup namanya balon
A: (((tertawa)))

Sebenarnya ada banyak lagi, hanya saja saya lupa, hehehe. Awalnya saya kira ia hanya salah pengucapan dan salah mendefinisikan. Namun, selalu setelah saya betulkan, ia langsung tertawa. Berarti sepenangkapan saya, sebenarnya Azka tahu artinya cuma memang sedang plesetan.

Yang belum tahu rasanya berkreatifitias dengan plesetan, sila mampir Jogja. Duduk di angkringannya, maka akan ada sekumpulan orang yang tidak saling kenal, bahkan baru bertemu detik itu, namun sudah saling mengobrol lengkap dengan plesetannya. Kalau beruntung, obrolan akan berlanjut ke politik, seni, bahkan bedah buku



Salam hangat,

Astri

Friday, October 6, 2017

Waktu adalah Uang

Halo Teman-teman,

Fiuuuh, sudah lama tidak menulis di blog ini. Qodarullah, suami saya sakit dan kegiatan seminggu ini terasa penuh sekali.

Seminggu lalu, penyakit lambung suami kambuh. Penyakit yang membuatnya bolak-balik ke rumah sakit, hehe. Nah, agar tidak mengulang opname, maka beliau harus beristirahat sementara. Yang artinya tidak masuk kerja. Namun, ada satu manusia bahagia dengan keadaan ini. Siapa lagi kalau bukan Azka. Bagaimana tidak, sekitar 14 jam per hari adalah waktu yang digunakan suami saya untuk bekerja.

Dia menganggap izin kerja sama dengan papi's day off . Awalnya, dia memaksa untuk ditemani bermain. Namun, setelah dijelaskan berulang-ulang bahwa papi sedang sakit, Alhamdulillah mengerti. Justru akhirnya dia yang meburu-buru untuk segera pergi ke Rumah Sakit.

Terlepas dari semua itu, satu hikmah yang saya ambil. Betapa seorang anak membutuhkan sekali kehadiran orang tuanya. Walaupun itu hanya di rumah, tanpa mainan mewah. Walaupun hanya bersendau gurau, dengan obrolan acak. Waktu lah yang dibutuhkannya.

Huft . . . memang betul adanya. Pernikahan adalah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan. Termasuk ketika sudah menjadi orang tua. Banyak sekali ilmu yang harus dicari, ego yang harus ditekan, waktu yang harus disishkan.

Makin lama menghayati peran sebagai orang tua, makin memahami betapa sulitnya orang tua saya dulu membesarkan ketiga anaknya. Makin banyak membaca info paretning, makin kagum dengan orang tua zaman dahulu yang tetap yakin berjalan dalam kegelapan dengan jumlah anak sampai belasan.

Makin lama bergabung dengan para ibu-ibu hebat, makin sadar bahwa saya adalah manusia ketinggalan kereta. Hiks



Salam hangat,

Astri

Monday, October 2, 2017

5 Langkah Memulai Homeschooling

Halo Teman-teman,

Artikel ini bertujuan sebagai dokumentasi tentang awal mula kami memulai homeschooling (HS). Suami saya sebenarnya yang pertama kali menginginkan HS untuk anak-anak, berdasarkan beberapa pertimbangan. Awalnya menolak, namun kemudian mulai sepakat setelah hampir dua tahun kemudian. Lebih tepatnya sekitar tiga bulan lalu. Saya pun mulai berburu info, salah satu yang saya ikuti adalah webinar bertajuk "Menimbang dan Memulai Homeschooling Bersama Rumah Inspirasi".

Kami, atau lebih tepatnya saya, adalah pihak yang 24/7 di rumah, sehingga kegiatan HS pun sebagian besar berpusat di saya. Minimnya pengalaman dan pengetahuan, hanya bermodal nekat dengan sedikit penerangan, saya memulai HS.


Maka, yang saya lakukan pada awal menjalankan HS adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada kurikulum apapun yang diterapkan
Kurikulum adalah salah satu momok bagi orang tua yang bukan tidak mungkin mengagalkan niat untuk SEGERA memulai HS. Kita yang notabene belasan hingga puluhan tahun duduk di bangku sekolah formal, pastilah mengaggap bahwa kurikulum adalah nyawa dari suatu pendidikan. Ditambah lagi, kita sebagai murid hanya duduk manis di dalam kelas, sedangkan pemerintah bersama segenap ahli pendidikan yang meramu kurikulum.
Ketika HS, kita dituntut membuat program-program untuk anak kita. Tidak ada yang membimbing, pun bisa jadi kita adalah perintis HS di keluarga besar atau di kota domisili. Disisi lain, banyak sekali informasi tentang metode-metode pendidikan yang semuanya luar biasa. Sebut saja Montessori, Charlotte Mason, Waldrof, Regio Emillia, metode pembelajaran berbasis keagamaan, dan unschooling.

Lalu, saya bagaimana?
Saya teringat bahwa dalam buku "7 Habits of Highly Effective People" disinggung mengenai fokus dengan apa yang bisa dikerjakan. Bukan menguatirkan sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan.

Mulailah saya membaca blog-blog para praktisi homeschooling, kemudian menimbang-nimbang bisa diterapkan atau tidak di keluarga kami. Saya juga membaca sedikit demi sedikit, teori metode pendidikan seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Tidak berurutan dan tidak menunggu lengkap. Sekiranya yang saya baca saat itu bisa dilakukan, maka saya lakukan. Sekiranya saya coba ternyata tidak jalan, saya hentikan.

Saya tidak mematok mengikuti metode tertentu karena beresiko tidak bisa menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung. Pertama, kami tinggal di kota kecil yang sangat minim infrastruktur. Kedua, sarana dan prasarana bisa dipaksakan untuk disiapkan, namun berefek pada pengeluaran yang juga kami pertimbangkan. Anggap saja mainan edukatif, hanya bisa kami dapatkan dari Pulau Jawa, yang mana ongkos kirimnya pun tidak murah. Sebenarnya, masih bisa dipaksakan membuat, namun selain bahan baku yang juga cenderung susah, waktu saya pun terbatas karena saya juga disibukkan dengan urusan domestik. Jika memaksakan, yang ada saya stres sendiri. Padahal stres adalah komponen utama yang harus saya hindari.

Sehingga, mempertimbangkan usia Azka yang belum genap tiga tahun, maka kegiatan yang kami lakukan pun terbagi menjadi dua yaitu kegiatan yang bisa dilakukan secara konsisten dan sebaliknya. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan secara konsisten adalah jam bangun tidur, mandi, makan, dan kembali tidur. Sementara, yang tidak bisa dilakukan secara konsisten adalah jenis permainan.

Kami percaya bahwa setiap individu memiliki keinginan untuk belajar, maka saya pun membebaskan Azka memilih permainannya sendiri. Saya membebaskannya ketika ingin "meng-observasi" isi rumah. Jika berantakan, ya dibereskan bersama. Ketika dia ingin ke luar rumah, ya saya bebaskan juga. Memandang awan, mengamati elang yang terbang ketika kami menjemur pakaian, menjatuhkan diri di rumput, mengejar kupu-kupu, belanja ke pasar mengendarai bentor, dan sebagainya. Kami ada jadwal rutin bermain di luar rumah, yaitu sekitar jam 17.00 WITA. Kami membuat perjanijan bahwa main di luar dilakukan setelah urusan domestik selesai. Ketika suatu hari Azka tidak mau keluar rumah? Ya tidak apa-apa.

Contoh kegiatan outdoor: Menjadi petugas pemadam kebakaran menggunakan tiang carport

Contoh kegiatan outdoor: Ketika tim panjat tebing tidak menerima anggota balita


2. Interaksi Sosial
Sebenarnya, ketika awal-awal memutuskan HS, hal ini lah yang menjadi perhatian saya. Jika saat di Jogja, kami bisa membawanya ke berbagai kegiatan anak-anak. Sementara, di kota kecil ini, hampir tidak ada acara seperti itu. Pun di tempat tinggal kami lingkungannya sangat sepi. Kami keluarga yang berpindah-pindah, tinggal di lingkungan yang juga penduduknya berpindah-pindah. Azka sudah mengenal hello and good bye sejak sangat kecil. Bagi kami hello and see you terasa sulit, hehehe. Ada teman yang sudah akraB, mendadak ayahnya dipindahtugaskan. Begitu lah ceritanya. Bisa jadi suatu saat kami yang berpindah.
Lalu, saya mulai bingung lagi bagaimana mencarikannya teman. Setelah berkeluh kesah dengan suami, saya diyakinkan bahwa tetap berfokus dengan apa yang bisa dilakukan. Masalah interaksi sosial, dilakukan sebisanya. Seperti, membeli barang di warung atau pesan makanan. Kami mempercayakan Azka untuk berbicara sendiri sesuai arahan dari kami. Sejauh ini, terkadang dia mau dan terkadang juga tidak. Terkadang dia juga mau menyerahkan uang ke penjual, namun enggan berkomunikasi, hehe. Ya begitulah, karena dalam hal ini tidak ada tuntutan apapun untuk anak usia dini. Kecuali sudah diharuskan membentuk kelompok arisan atau tergabung dalam PBB (Persatuan Balita Balita).

3. Belajar dari keseharian
Sebelum tertarik dan belajar tentang HS, saya sudah membiasakan Azka untuk terlibat dalam kegiatan domestik. Ketika menginjak satu tahun, saya membiasakannya untuk menaruh baju kotor ke keranjang cucian dan menaruh sampah ke tempatnya. Seiring berjalannya waktu, kegiatan bertambah. Saya mewajibkan dia ikut terlibat ketika memasak, mencuci, menjemur pakaian, menaruh baju ke dalam lemari, serta menyapu dan mengepel lantai.
Saat memasak, dia terlibat langsung dalam memotong-motong bahan makanan. Saya beri dia talenan dan pisau asli (dengan pengawasan dan sudah dipertimbangkan keamanannya), kemudian saya berikan sayuran. Ketika mencuci, saya biarkan dia memasukkan baju ke dalam mesin cuci, menaruh detergent, dan menekan tombol mesin cuci. Saya juga membiarkan dia menjemur pakaiannya sendiri sebisanya. Begitu pula dengan menyapu dan mengepel lantai, saya biarkan dia mengerjakan terlebih dahulu baru saya yang membereskannya. Terkadang terasa pekerjaan menjadi semakin lama, tapi tidak apa-apa. Anggap saja sebagai usaha membangun kebaikan anak
Ternyata, setelah banyak membaca dan mengikuti webinar HS, belajar dari keseharian ini bisa menjadi alternatif kegiatan HS. Memang bukan kegiatan yang menyangkut dengan teori pelajaran. Namun, mendekatkan anak ke kehidupan nyata. Banyak kan yang belajar merawat rumah justru setelah menikah, karena dipaksa keadaan. Bahkan ada yang stres ketika dihadapkan dengan pekerjaan rumah. Itu membuktikan bahwa kebiasaan mengerjakan urusan domestik rumah tangga tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Kegiatan ini juga bisa dijadikan sarana dalam melatih manajemen waktu.

Menjemur pakaian

Hasil menjemur


Ya beginilah

Pekerjaan akan terasa lebih lama


4. Melatih kemandirian
Seperti orang tua pada umumnya, saya juga membiasakan Azka untuk melatih kemadirian dengan cara sederhana. Seperti mengambil air minumnya sendiri, melepas dan memakai baju, melepas dan memakai sepatu, dan sebagainya. Ternyata, ini pun juga menjadi sarana pembelajaran HS.

5. Mengajak berdialog
Kegiatan berdialog yang meilputi bercerita, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi adalah kegiatan saya semenjak Azka lahir. Sejak Azka keluar dari rahim, saya menjadi orang yang sering berbicara sendiri, hahaha
Sebelum memiliki anak, saya orang yang sangat canggung "ngliling bayi". Lebih tepatnya bingung mau bicara apa. Namun, setelah Azka lahir saya merasa wajib membangun komunikasi dengannya. Saya membicarakan apa saja. Sebagian besar yang saya bicarakan, tentu saja yang Azka tidak mengerti. Contohnya, Azka lahir ketika tahun terakhir masa perkuliahan saya. Saat itu, saya membaca puluhan jurnal sebagai panduan riset, sehingga saya pun sering membicarakannya dengan Azka. Sejak dalam kandungan pun sebenarnya saya sudah sering menjadikan Azka sebagai pendengar latihan presentasi saya. Aneh kan ya saya ini!
Makin besar, Azka makin menunjukkan keaktifannya bertanya. Jadi, tugas saya menjawab setiap pertanyaan itu. Terkadang mudah dijawab, terkadang sebaliknya. Terkadang saya juga harus memberi tanggapan yang bingung bagaimana menjelaskannya. Contohnya, Azka pernah menyatakan ketidakterimaannya tentang Nabi Muhammad SAW yang sudah meninggal. Azka menginginkan bertemu dengan Rasulullah SAW langsung, bukan sekedar melihat makam beliau. Trus mami kudu piye Nak??
Berdasarkan webinar bersama rumah inspirasi, saya pun akhirnya mengetahui bahwa berdialog dengan anak memiliki manfaat luar biasa besar. Membangun logika berpikir, memberi pengetahuan, dan menambah perbendaharaan kata hanyalah tiga diantara manfaat berdialog dengan anak. Maka, kegiatan ini pun juga dapat menjadi sarana pembelajaran dalam HS


Oh iya, lebih penting dari itu semua, hal terpenting dalam HS adalah membangun kebahagiaan. Baik kebahagiaan anak maupun orang tua. Pastikan anak nyaman dengan orang tua dan juga sebaliknya.

Kira-kira lima poin ini adalah langkah awal saya memulia HS di rumah. Namun, perlu diketahui bahwa saya memulai HS ketika anak masih berusia dini. Di luar sana dan kemungkinan termasuk Anda adalah yang ingin memulai HS ketika anak sudah usia sekolah. Maka, kegiatan tidak bisa sesederhana kelima poin diatas. Terlebih lagi, bagi anak yang sudah pernah mengenyam bangku sekolah formal maka ada masa transisi yang disebut dengan "deschooling", kemudian dilanjutkan dengan menanamkan kemandirian dalam belajar. Hal-hal itu belum bisa saya tuliskan karena belum memiliki pengalaman.

Sebagai penutup artikel ini, saya menekankan bahwa tidak ada patokan baku dalam menjalankan HS. Tidak ada yang salah dan benar, ataupun lebih bagus dan jelek. Saya lebih senang menyebutnya cocok dan tidak cocok. Masing-masing keluarga memiliki preferensinya sendiri. Jika suatu metode dinilai baik dan sesuai dengan nilai-nilai dalam keluarga, kenapa tidak?

Bagi yang ingin berdiskusi, saya membuka pintu lebar-lebar. Silahkan isi kolom komentar di bawah. Dan mari saling memperkaya ilmu :)



Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar homeschooling)

Friday, September 22, 2017

Punya Diapers Bekas? Bisa lho Dibuat Mainan

Halo Teman-teman,

Di artikel saya akan sedikit berbagi mengenai kegiatan kami di hari Jumat lalu. Kebetulan saya sempat khilaf membeli pospak untuk Azka. Entah saya lagi kurang minum Aqua sepertinya. Bbeberapa bulan lalu, saya membeli pospak untuk newbor yang akhirnya hanya teronggok di kontainer dan tidak terpakai. Nah, kebetulan saya tergabung di grup Institut Ibu Profesional area Kalimantan Timur dan Utara atau yang disingkat IIP Foundation Kaltimra. Cerita kegiatan pribadi saya mengembangkan diri, In sya Allah dituliskan di blog lain ya. Silahkan singgah dengan klik disini.

Nah, di grup IIP hari Jumat adalah jadwal berbagi DIY yang dilakukan hari itu atau dilakukan selama seminggu belakangan. Semua ibu prof di grup ini keren. Salah satunya berbagi tentang ide bermain hidrogel yang didapat dari pospak. Sebenarnya, saya sudah sangat jauh-jauh hari mengetahui hal ini. Tetapi tidak pernah ada greget untuk menjalankannya. Komunitas ini lah yang membuat saya langsung bergerak saat itu juga. Bagi yang butuh suntikan semangat dan mencari komunitas yang saling mendukung satu sama lain bisa ikut bergabung kok. Caranya saya tuliskan di blog saya satunya ya. Sekali lagi, silahkan klik disini.

Alat dan bahannya saya tuliskan ya:
1. Pospak ata popok sekali pakai atau diapers
Bisa merk apa saja. Setau saya, semua merk saat ini sudah menggunakan bahan gel yang dapat menyerap cairan. Itu kenapa pantat bayi tetap kering waaupun pipis berkali-kali.
2. Pewarna makanan
Bisa warna apa saja. Kebetulan yang ada di rumah kami warna merah tua, merah muda, dan hijau
3. Air
4. Baskom
5. Mainan atau alat peraga apapun
6. Pipet tetes (optional)

Caranya mudah sekali. Sobek pospak, ambil isinya. Sebelum dikasih air, isinya akan terkihat seperti kapas. Tidak masalah. Kemudian dimasukkan ke dalam baskom. Tuang air ke dalam baskom, maka akan terlihat perubahan dari kapas tadi menjadi gel. Kemudian beri pewarna makanan. Lebih afdol memberinya menggunakan pipet. Supaya melatih motorik halus anak. Lalu, berkreasilah.
Di grup IIP, permainan ini digunakan sebagai ajang belajar berhitung dengan menancapkan sedotan di tumukan hidrogel berwarna. Bisa juga membentuk huruf dari hidrogel. Namun, Azka tidak tertarik dengan itu semua. Seperti biasa, dia mengambil mainannya. Mobil-mobilan, eskafator, dan sendok. Bermain lah imajinasinya.



Sempat membuat tiruan es serut. Azka mukanya lelah 😁

Oh iya, permainan ini tidak bertahan lama di Azka. Dia bosan, hanya bermain sekitar lima belas menit saja.

Memang terkadang persepsi dan ekspektasi kita akan berlawanan dengan kenyataan. Menyiapkannya lama dan lelah. Bermain efektifnya hanya sebentar. Tidak masalah, jangan paksakan keinginan kita ke anak. Menurut saya, jangan pula menyalahkan anak atas rasa lelah kita yang serasa tidak dihargai.

Guna menghindari hal tersebut, saran saya jangan membuat aktifitas yang terlalu melelahkan. Walaupun memang, di luar sana banyak kegiatan keren yang menarik untuk dilakukan. Tetapi, kalau mebuat kita lelah dan marah, untuk apa? Niat baik kita justru tidak tersampaikan.




Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)