Saturday, November 18, 2017

Review Buku HOP! Produksi Rabbit Hole ID

Halo,

Mungkin di sini sudah banyak yang punya buku produksi PT. Lubang Kelinci Indonesia, saya sih baru punya satu dan itu dikirim oleh adik ipar dari Jogja (((GRATISAN)))

Sebenarnya sudah lama tertarik sama buku-bukunya, namun harganya yang mencapai lebih dari 100ribu per buku membuat saya tarik ulur untuk membelinya. Karena bisa mendapat beberapa buku  konvensional dengan harga yang sama, hehehe

Sampai suatu hari adik ipar tanya kalau Azka mau dikirimin apa. Langsung saya jawa: BUKU!! Dan dikirimlah buku dari @rabbitholeid yang berjudul HOP!.

Buku ini menceritakan siklus hidup manusia dan hewan. Seperti, dulu ayah dan ibu juga pernah menjadi bayi, anak kecil, orang dewasa, lalu menikah. Ada juga siklus hidup ikan yang berasal dari telur, ikan kecil, ikan "remaja", dan ikan dewasa. Di halaman lain tertulis bahwa kupu-kupu asal mulanya adalah ulat yang berubah menjadi kempompong, baru lah menjadi kupupu. Ada juga siklus hidup monyet.

Tidak ada yang luar biasa dari ceritanya, hanya keunggulan produk rabbit hole ini adalah tampilannya. Selain merupakan board book dengan tinta yang awet, bukunya dilengkapi fitur dorong-tarik-putar-geser. Sehingga anak-anak bisa menggeser-geser yang tandinya anak cewek setelah fiturnya digeser berubah jadi laki-laki.


Alhamdulillah Azka tertarik buku, hanya saja fitur di buku ini membuatnya tertarik terus, bahkan sesaat setelah bangun di pagi hari. Ini dia senyumnya. Masih memakai baju tidur, belum mandi, yang dicari buku @rabbitholeid. Yang penasaran, sila buka instagramnya saja. Sepertinya sudah banyak reseller di berbagai kota. Ngirit ongkir, hehehe



Salam hangat,

Astri



DIY Mainan Something

Halo,

Sudah lama sekali ini ingin ditulis. Namun apa daya tidak pernah kesampaian. Padahal anak baru satu ya, hahaha

Di suatu siang, ketika bingung mau memberikan hiburan apa untuk Azka, akhirnya saya menurunkan karpet Dance Dance Revolution (DDR). Niat hati ingin olah raga bersama Azka.

Oh iya untuk penjelasan, karpet ini fungsinya sama dengan permainan Dance yang ada di Timezone dan sebangsanya. Namun bisa dilakukan di rumah hanya dengan menginstal CD permainan DDR-nya dan menancapkan karpet ini ke laptop.

Ekspektasi saya ketika membeli karpet ini adalah bisa aerobik di rumah. Badan sehat, hati pun senang. Hanya saja, seelah barang datang ternyata tidak seperti yang saya lihat di review produk. Di sana tertulis menginstal CD dan mengaturnya mudah. Tapi tidak untuk saya. Sulit untuk mengatur level dance yang diinginkan, sehingga yang muncul selalu permainan dengan tempo super cepat dan mungkin hanya bisa diikuti oleh dancer profesional.

Akhirnya, mau tidak mau karpet ini hanya teronggok tak berfungsi. Ada niat ntuk mengutak-atik menjadi mainan baru namun belum ada ide, sampai siang itu Azka  membuat mainan dari idenya sendiri.

Ketika itu dia mengambil tutup lem fox PVAC dan tutup gelas. Lalu mengajak saya dan berkata, "Mi, ayo ini pukul-pukulan kayak yang ada di STC".

"Kok pukul-pukulan?", saya kaget karena tidak pernah ada permainan pukul-pukulan yang saya perkenalkan

"Ini lho Mi yang kayak gini", dia mencontohkan

Ini malam harinya, sepulang kerja suami

Barulah saya mengerti. Yang ia maksud adalah mainan semacam tenis yang banyak terdapat di area permainan seperti Timezone. Kunci dari permainan ini adalah meja yang licin karena bisa membuat "bola" mudah untuk bergeser. Di area permainan sendiri, saya amati ada semacam magnet yang akan aktif setelah kita menggesek kartu. Kembali tidak aktif setelah permainan berakhir. Saat aktif "bola" akan mudah meluncur, saat tidak aktif "bola" sama sekali tidak dapat meluncur. Tidak disangka karpet DDR ini memiliki tingkat kelicinan yang tinggi, sehingga tutup lem fox PVAC bisa melesat dengan mudahnya. Kami pun bermain dengan riang. Azka lumayan betah memainkan ini dan diulang-ulang berkali-kali. Beda dengan mainan yang saya buat, paling lama lima menit lalu dilupakan, hahaha

Itu lah sebabnya saya yang suka crafting kadang malas-malasan membuat permainan karena anaknya sendiri suka buat mainan  yang lebih diminati, haha.


Salam hangat,

Astri

Plesetan

Halo,

Akhirnya mengisi lagi di blog ini setelah hampir dipenuhi sarang laba-laba, haha.

Postingan kali ini tidak ada fotnya karena terjadi begitu saja. Terkadang waktu memasa atau sedang di atas motor, atau sedang makan. Posisi yang sedang tidak memegang ponsel.

Di Jogja, istilah plesetan sudah akrab di dengar. Mungkin di daerah lain juga sudah, hanya saja di percakapan sehari-hari masyarakat Jogja umumnya diselingi dengan plesetan. Bahkan kalau di rumah saya bisa terjadi sewaktu-waktu dan akan semakin ramai pada jam makan karena satu keluarga berkumpul di meja makan, saling bercengkrama.

Mengubah suatu kata menjadi kata lain yang mirip-mirip adalah definisi dari plesetan. Misalkan seperti pada percakapan si A dan si B berikut:

A: Heh B, kamu bawa cemilan apa?
B: Aku bawa cemilan, cepuluh, cebelas

Dan kalau di Jogja ini bisa bersambung terus-menerus. Hiburan gratis sekaligus melatih kreatifitas, hehe.

Di rumah saat ini, kami ya kadang-kadang menggunakan plesetan untuk intermeso obrolan. Lucunya, Azka bisa membuat plesetan sendiri yang saya juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan ide. Berikut beberapa contoh yang saya ingat ya. Azka (A) dan saya (M):

A: Mami, ini yang untuk buat pensil supaya nggak bujel (tumpul/patah) namanya apa?
M: Peraut
A: Kok dia kerjanya di Rumah Sakit?
M: Itu perawat
A: (((tertawa)))

dialog lain

M: Wah jam segini gelap gulita sudah ya. Biasanya kalau nggak mendung masih terang-terang aja
A: Gulita artinya apa Mi?
M: Gelap gulita artinya gelap sekali
A: Gulita yang binatang tangan banyak itu?
M: Itu gurita
A: (((tertawa)))

dialog lain lagi

A: Mami ini galonnya bisa ditiup? (sambil membawa galon kosong)
M: Yang ditiup namanya balon
A: (((tertawa)))

Sebenarnya ada banyak lagi, hanya saja saya lupa, hehehe. Awalnya saya kira ia hanya salah pengucapan dan salah mendefinisikan. Namun, selalu setelah saya betulkan, ia langsung tertawa. Berarti sepenangkapan saya, sebenarnya Azka tahu artinya cuma memang sedang plesetan.

Yang belum tahu rasanya berkreatifitias dengan plesetan, sila mampir Jogja. Duduk di angkringannya, maka akan ada sekumpulan orang yang tidak saling kenal, bahkan baru bertemu detik itu, namun sudah saling mengobrol lengkap dengan plesetannya. Kalau beruntung, obrolan akan berlanjut ke politik, seni, bahkan bedah buku



Salam hangat,

Astri

Friday, October 6, 2017

Waktu adalah Uang

Halo Teman-teman,

Fiuuuh, sudah lama tidak menulis di blog ini. Qodarullah, suami saya sakit dan kegiatan seminggu ini terasa penuh sekali.

Seminggu lalu, penyakit lambung suami kambuh. Penyakit yang membuatnya bolak-balik ke rumah sakit, hehe. Nah, agar tidak mengulang opname, maka beliau harus beristirahat sementara. Yang artinya tidak masuk kerja. Namun, ada satu manusia bahagia dengan keadaan ini. Siapa lagi kalau bukan Azka. Bagaimana tidak, sekitar 14 jam per hari adalah waktu yang digunakan suami saya untuk bekerja.

Dia menganggap izin kerja sama dengan papi's day off . Awalnya, dia memaksa untuk ditemani bermain. Namun, setelah dijelaskan berulang-ulang bahwa papi sedang sakit, Alhamdulillah mengerti. Justru akhirnya dia yang meburu-buru untuk segera pergi ke Rumah Sakit.

Terlepas dari semua itu, satu hikmah yang saya ambil. Betapa seorang anak membutuhkan sekali kehadiran orang tuanya. Walaupun itu hanya di rumah, tanpa mainan mewah. Walaupun hanya bersendau gurau, dengan obrolan acak. Waktu lah yang dibutuhkannya.

Huft . . . memang betul adanya. Pernikahan adalah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan. Termasuk ketika sudah menjadi orang tua. Banyak sekali ilmu yang harus dicari, ego yang harus ditekan, waktu yang harus disishkan.

Makin lama menghayati peran sebagai orang tua, makin memahami betapa sulitnya orang tua saya dulu membesarkan ketiga anaknya. Makin banyak membaca info paretning, makin kagum dengan orang tua zaman dahulu yang tetap yakin berjalan dalam kegelapan dengan jumlah anak sampai belasan.

Makin lama bergabung dengan para ibu-ibu hebat, makin sadar bahwa saya adalah manusia ketinggalan kereta. Hiks



Salam hangat,

Astri

Monday, October 2, 2017

5 Langkah Memulai Homeschooling

Halo Teman-teman,

Artikel ini bertujuan sebagai dokumentasi tentang awal mula kami memulai homeschooling (HS). Suami saya sebenarnya yang pertama kali menginginkan HS untuk anak-anak, berdasarkan beberapa pertimbangan. Awalnya menolak, namun kemudian mulai sepakat setelah hampir dua tahun kemudian. Lebih tepatnya sekitar tiga bulan lalu. Saya pun mulai berburu info, salah satu yang saya ikuti adalah webinar bertajuk "Menimbang dan Memulai Homeschooling Bersama Rumah Inspirasi".

Kami, atau lebih tepatnya saya, adalah pihak yang 24/7 di rumah, sehingga kegiatan HS pun sebagian besar berpusat di saya. Minimnya pengalaman dan pengetahuan, hanya bermodal nekat dengan sedikit penerangan, saya memulai HS.


Maka, yang saya lakukan pada awal menjalankan HS adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada kurikulum apapun yang diterapkan
Kurikulum adalah salah satu momok bagi orang tua yang bukan tidak mungkin mengagalkan niat untuk SEGERA memulai HS. Kita yang notabene belasan hingga puluhan tahun duduk di bangku sekolah formal, pastilah mengaggap bahwa kurikulum adalah nyawa dari suatu pendidikan. Ditambah lagi, kita sebagai murid hanya duduk manis di dalam kelas, sedangkan pemerintah bersama segenap ahli pendidikan yang meramu kurikulum.
Ketika HS, kita dituntut membuat program-program untuk anak kita. Tidak ada yang membimbing, pun bisa jadi kita adalah perintis HS di keluarga besar atau di kota domisili. Disisi lain, banyak sekali informasi tentang metode-metode pendidikan yang semuanya luar biasa. Sebut saja Montessori, Charlotte Mason, Waldrof, Regio Emillia, metode pembelajaran berbasis keagamaan, dan unschooling.

Lalu, saya bagaimana?
Saya teringat bahwa dalam buku "7 Habits of Highly Effective People" disinggung mengenai fokus dengan apa yang bisa dikerjakan. Bukan menguatirkan sesuatu yang tidak bisa kita kerjakan.

Mulailah saya membaca blog-blog para praktisi homeschooling, kemudian menimbang-nimbang bisa diterapkan atau tidak di keluarga kami. Saya juga membaca sedikit demi sedikit, teori metode pendidikan seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Tidak berurutan dan tidak menunggu lengkap. Sekiranya yang saya baca saat itu bisa dilakukan, maka saya lakukan. Sekiranya saya coba ternyata tidak jalan, saya hentikan.

Saya tidak mematok mengikuti metode tertentu karena beresiko tidak bisa menyiapkan sarana dan prasarana yang mendukung. Pertama, kami tinggal di kota kecil yang sangat minim infrastruktur. Kedua, sarana dan prasarana bisa dipaksakan untuk disiapkan, namun berefek pada pengeluaran yang juga kami pertimbangkan. Anggap saja mainan edukatif, hanya bisa kami dapatkan dari Pulau Jawa, yang mana ongkos kirimnya pun tidak murah. Sebenarnya, masih bisa dipaksakan membuat, namun selain bahan baku yang juga cenderung susah, waktu saya pun terbatas karena saya juga disibukkan dengan urusan domestik. Jika memaksakan, yang ada saya stres sendiri. Padahal stres adalah komponen utama yang harus saya hindari.

Sehingga, mempertimbangkan usia Azka yang belum genap tiga tahun, maka kegiatan yang kami lakukan pun terbagi menjadi dua yaitu kegiatan yang bisa dilakukan secara konsisten dan sebaliknya. Contoh kegiatan yang bisa dilakukan secara konsisten adalah jam bangun tidur, mandi, makan, dan kembali tidur. Sementara, yang tidak bisa dilakukan secara konsisten adalah jenis permainan.

Kami percaya bahwa setiap individu memiliki keinginan untuk belajar, maka saya pun membebaskan Azka memilih permainannya sendiri. Saya membebaskannya ketika ingin "meng-observasi" isi rumah. Jika berantakan, ya dibereskan bersama. Ketika dia ingin ke luar rumah, ya saya bebaskan juga. Memandang awan, mengamati elang yang terbang ketika kami menjemur pakaian, menjatuhkan diri di rumput, mengejar kupu-kupu, belanja ke pasar mengendarai bentor, dan sebagainya. Kami ada jadwal rutin bermain di luar rumah, yaitu sekitar jam 17.00 WITA. Kami membuat perjanijan bahwa main di luar dilakukan setelah urusan domestik selesai. Ketika suatu hari Azka tidak mau keluar rumah? Ya tidak apa-apa.

Contoh kegiatan outdoor: Menjadi petugas pemadam kebakaran menggunakan tiang carport

Contoh kegiatan outdoor: Ketika tim panjat tebing tidak menerima anggota balita


2. Interaksi Sosial
Sebenarnya, ketika awal-awal memutuskan HS, hal ini lah yang menjadi perhatian saya. Jika saat di Jogja, kami bisa membawanya ke berbagai kegiatan anak-anak. Sementara, di kota kecil ini, hampir tidak ada acara seperti itu. Pun di tempat tinggal kami lingkungannya sangat sepi. Kami keluarga yang berpindah-pindah, tinggal di lingkungan yang juga penduduknya berpindah-pindah. Azka sudah mengenal hello and good bye sejak sangat kecil. Bagi kami hello and see you terasa sulit, hehehe. Ada teman yang sudah akraB, mendadak ayahnya dipindahtugaskan. Begitu lah ceritanya. Bisa jadi suatu saat kami yang berpindah.
Lalu, saya mulai bingung lagi bagaimana mencarikannya teman. Setelah berkeluh kesah dengan suami, saya diyakinkan bahwa tetap berfokus dengan apa yang bisa dilakukan. Masalah interaksi sosial, dilakukan sebisanya. Seperti, membeli barang di warung atau pesan makanan. Kami mempercayakan Azka untuk berbicara sendiri sesuai arahan dari kami. Sejauh ini, terkadang dia mau dan terkadang juga tidak. Terkadang dia juga mau menyerahkan uang ke penjual, namun enggan berkomunikasi, hehe. Ya begitulah, karena dalam hal ini tidak ada tuntutan apapun untuk anak usia dini. Kecuali sudah diharuskan membentuk kelompok arisan atau tergabung dalam PBB (Persatuan Balita Balita).

3. Belajar dari keseharian
Sebelum tertarik dan belajar tentang HS, saya sudah membiasakan Azka untuk terlibat dalam kegiatan domestik. Ketika menginjak satu tahun, saya membiasakannya untuk menaruh baju kotor ke keranjang cucian dan menaruh sampah ke tempatnya. Seiring berjalannya waktu, kegiatan bertambah. Saya mewajibkan dia ikut terlibat ketika memasak, mencuci, menjemur pakaian, menaruh baju ke dalam lemari, serta menyapu dan mengepel lantai.
Saat memasak, dia terlibat langsung dalam memotong-motong bahan makanan. Saya beri dia talenan dan pisau asli (dengan pengawasan dan sudah dipertimbangkan keamanannya), kemudian saya berikan sayuran. Ketika mencuci, saya biarkan dia memasukkan baju ke dalam mesin cuci, menaruh detergent, dan menekan tombol mesin cuci. Saya juga membiarkan dia menjemur pakaiannya sendiri sebisanya. Begitu pula dengan menyapu dan mengepel lantai, saya biarkan dia mengerjakan terlebih dahulu baru saya yang membereskannya. Terkadang terasa pekerjaan menjadi semakin lama, tapi tidak apa-apa. Anggap saja sebagai usaha membangun kebaikan anak
Ternyata, setelah banyak membaca dan mengikuti webinar HS, belajar dari keseharian ini bisa menjadi alternatif kegiatan HS. Memang bukan kegiatan yang menyangkut dengan teori pelajaran. Namun, mendekatkan anak ke kehidupan nyata. Banyak kan yang belajar merawat rumah justru setelah menikah, karena dipaksa keadaan. Bahkan ada yang stres ketika dihadapkan dengan pekerjaan rumah. Itu membuktikan bahwa kebiasaan mengerjakan urusan domestik rumah tangga tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Kegiatan ini juga bisa dijadikan sarana dalam melatih manajemen waktu.

Menjemur pakaian

Hasil menjemur


Ya beginilah

Pekerjaan akan terasa lebih lama


4. Melatih kemandirian
Seperti orang tua pada umumnya, saya juga membiasakan Azka untuk melatih kemadirian dengan cara sederhana. Seperti mengambil air minumnya sendiri, melepas dan memakai baju, melepas dan memakai sepatu, dan sebagainya. Ternyata, ini pun juga menjadi sarana pembelajaran HS.

5. Mengajak berdialog
Kegiatan berdialog yang meilputi bercerita, menjawab pertanyaan, dan berdiskusi adalah kegiatan saya semenjak Azka lahir. Sejak Azka keluar dari rahim, saya menjadi orang yang sering berbicara sendiri, hahaha
Sebelum memiliki anak, saya orang yang sangat canggung "ngliling bayi". Lebih tepatnya bingung mau bicara apa. Namun, setelah Azka lahir saya merasa wajib membangun komunikasi dengannya. Saya membicarakan apa saja. Sebagian besar yang saya bicarakan, tentu saja yang Azka tidak mengerti. Contohnya, Azka lahir ketika tahun terakhir masa perkuliahan saya. Saat itu, saya membaca puluhan jurnal sebagai panduan riset, sehingga saya pun sering membicarakannya dengan Azka. Sejak dalam kandungan pun sebenarnya saya sudah sering menjadikan Azka sebagai pendengar latihan presentasi saya. Aneh kan ya saya ini!
Makin besar, Azka makin menunjukkan keaktifannya bertanya. Jadi, tugas saya menjawab setiap pertanyaan itu. Terkadang mudah dijawab, terkadang sebaliknya. Terkadang saya juga harus memberi tanggapan yang bingung bagaimana menjelaskannya. Contohnya, Azka pernah menyatakan ketidakterimaannya tentang Nabi Muhammad SAW yang sudah meninggal. Azka menginginkan bertemu dengan Rasulullah SAW langsung, bukan sekedar melihat makam beliau. Trus mami kudu piye Nak??
Berdasarkan webinar bersama rumah inspirasi, saya pun akhirnya mengetahui bahwa berdialog dengan anak memiliki manfaat luar biasa besar. Membangun logika berpikir, memberi pengetahuan, dan menambah perbendaharaan kata hanyalah tiga diantara manfaat berdialog dengan anak. Maka, kegiatan ini pun juga dapat menjadi sarana pembelajaran dalam HS


Oh iya, lebih penting dari itu semua, hal terpenting dalam HS adalah membangun kebahagiaan. Baik kebahagiaan anak maupun orang tua. Pastikan anak nyaman dengan orang tua dan juga sebaliknya.

Kira-kira lima poin ini adalah langkah awal saya memulia HS di rumah. Namun, perlu diketahui bahwa saya memulai HS ketika anak masih berusia dini. Di luar sana dan kemungkinan termasuk Anda adalah yang ingin memulai HS ketika anak sudah usia sekolah. Maka, kegiatan tidak bisa sesederhana kelima poin diatas. Terlebih lagi, bagi anak yang sudah pernah mengenyam bangku sekolah formal maka ada masa transisi yang disebut dengan "deschooling", kemudian dilanjutkan dengan menanamkan kemandirian dalam belajar. Hal-hal itu belum bisa saya tuliskan karena belum memiliki pengalaman.

Sebagai penutup artikel ini, saya menekankan bahwa tidak ada patokan baku dalam menjalankan HS. Tidak ada yang salah dan benar, ataupun lebih bagus dan jelek. Saya lebih senang menyebutnya cocok dan tidak cocok. Masing-masing keluarga memiliki preferensinya sendiri. Jika suatu metode dinilai baik dan sesuai dengan nilai-nilai dalam keluarga, kenapa tidak?

Bagi yang ingin berdiskusi, saya membuka pintu lebar-lebar. Silahkan isi kolom komentar di bawah. Dan mari saling memperkaya ilmu :)



Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar homeschooling)

Friday, September 22, 2017

Punya Diapers Bekas? Bisa lho Dibuat Mainan

Halo Teman-teman,

Di artikel saya akan sedikit berbagi mengenai kegiatan kami di hari Jumat lalu. Kebetulan saya sempat khilaf membeli pospak untuk Azka. Entah saya lagi kurang minum Aqua sepertinya. Bbeberapa bulan lalu, saya membeli pospak untuk newbor yang akhirnya hanya teronggok di kontainer dan tidak terpakai. Nah, kebetulan saya tergabung di grup Institut Ibu Profesional area Kalimantan Timur dan Utara atau yang disingkat IIP Foundation Kaltimra. Cerita kegiatan pribadi saya mengembangkan diri, In sya Allah dituliskan di blog lain ya. Silahkan singgah dengan klik disini.

Nah, di grup IIP hari Jumat adalah jadwal berbagi DIY yang dilakukan hari itu atau dilakukan selama seminggu belakangan. Semua ibu prof di grup ini keren. Salah satunya berbagi tentang ide bermain hidrogel yang didapat dari pospak. Sebenarnya, saya sudah sangat jauh-jauh hari mengetahui hal ini. Tetapi tidak pernah ada greget untuk menjalankannya. Komunitas ini lah yang membuat saya langsung bergerak saat itu juga. Bagi yang butuh suntikan semangat dan mencari komunitas yang saling mendukung satu sama lain bisa ikut bergabung kok. Caranya saya tuliskan di blog saya satunya ya. Sekali lagi, silahkan klik disini.

Alat dan bahannya saya tuliskan ya:
1. Pospak ata popok sekali pakai atau diapers
Bisa merk apa saja. Setau saya, semua merk saat ini sudah menggunakan bahan gel yang dapat menyerap cairan. Itu kenapa pantat bayi tetap kering waaupun pipis berkali-kali.
2. Pewarna makanan
Bisa warna apa saja. Kebetulan yang ada di rumah kami warna merah tua, merah muda, dan hijau
3. Air
4. Baskom
5. Mainan atau alat peraga apapun
6. Pipet tetes (optional)

Caranya mudah sekali. Sobek pospak, ambil isinya. Sebelum dikasih air, isinya akan terkihat seperti kapas. Tidak masalah. Kemudian dimasukkan ke dalam baskom. Tuang air ke dalam baskom, maka akan terlihat perubahan dari kapas tadi menjadi gel. Kemudian beri pewarna makanan. Lebih afdol memberinya menggunakan pipet. Supaya melatih motorik halus anak. Lalu, berkreasilah.
Di grup IIP, permainan ini digunakan sebagai ajang belajar berhitung dengan menancapkan sedotan di tumukan hidrogel berwarna. Bisa juga membentuk huruf dari hidrogel. Namun, Azka tidak tertarik dengan itu semua. Seperti biasa, dia mengambil mainannya. Mobil-mobilan, eskafator, dan sendok. Bermain lah imajinasinya.



Sempat membuat tiruan es serut. Azka mukanya lelah 😁

Oh iya, permainan ini tidak bertahan lama di Azka. Dia bosan, hanya bermain sekitar lima belas menit saja.

Memang terkadang persepsi dan ekspektasi kita akan berlawanan dengan kenyataan. Menyiapkannya lama dan lelah. Bermain efektifnya hanya sebentar. Tidak masalah, jangan paksakan keinginan kita ke anak. Menurut saya, jangan pula menyalahkan anak atas rasa lelah kita yang serasa tidak dihargai.

Guna menghindari hal tersebut, saran saya jangan membuat aktifitas yang terlalu melelahkan. Walaupun memang, di luar sana banyak kegiatan keren yang menarik untuk dilakukan. Tetapi, kalau mebuat kita lelah dan marah, untuk apa? Niat baik kita justru tidak tersampaikan.




Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

Making Funny Fun Pizza

Halo Teman-teman,

Dua hari lalu, hari kamis saat suami off, akhirnya terlaksana membuat pizza untuk makan siang. Oh iya, judul artikel ini diambil dari lagu salah satu Youtuber favorit Azka bernama Blippi. Berhubung kami tidak memiliki oven, maka kami membuat pizza dengan Happy Call Double Pan. Resep yang kami gunakan didapat dari sini.

Tidak seperti yang tertera pada link tersebut, bahan yang saya gunakan menggunakan bahan yang sudah ada di kulkas tanpa beli sama sekali. Maka, topping yang kami gunakan hanya saus tomat, jagung manis, bawang bombay, dan sosis ayam. Sementara, kejunya hanya menggunakan Kraft Quick Melt. Tepung yang saya gunakan adalah terigu serba guna.

Kami memiliki jadwal makan siang jam 12.00 WITA, maka saya mulai membuat adonan pukul 10.00 WITA mengingat adonan harus didiamkan selama satu jam. Pada kegiatan ini, Azka bertugas menghias pizza. Tentunya dengan pengawasan. Kami mulai menghias pukul 11.00 WITA, sehingga selesai Alhamdulillah tepat pukul 12.00 WITA. Walaupun tidak terlalu ketat, saya membiasakan beberapa hal penting harus memiliki jadwal pasti. Salah satunya jadwal makan.

Kami makan bersama ditemani minum milkshake. Alhamdulillah.

Mengoleskan saus tomat dan menaruh topping sayuran

Menaburkan keju Kraft Quick Melt
Maksud Azka bilang "piis" sebelum adonan dipanggang, hehe
Makan pizza anget-anget. Nggak punya loyang, nggak masalah. Ada kertas nasi, hehe


Hikmah yang bisa diambil adalah:
1. Azka senang kegiatan menghias
Kegiatannya hanya menghias topping, sehingga tugas saya disini adalah membuat adonan, meracik hingga menumis sayuran, dan menempatkan semua alat serta bahan agar Azka dapat mudah mengerjakan kegiatannya.

2. Kami mengambil kesimpulan perlu mengambil jadwal rutin untuk memasak
Saya dan suami berencana untuk membuat kegiatan masak rutin sebulan dua kali. Hal ini di luar kegiatan Azka setiap hari untuk membantu saya memasak. Semampu dia tentunya.

3. Banyak yang bisa dipelajari dari memasak
Melatih motorik halus dan kasar, mengenalkan nama sayuran (walaupun Azka sudah paham tentang sayur sebelum usia dua tahun), membantu kami selaku orang tua mengetahui minat dan bakat Azka. Sejauh ini memasak bisa dibilang minat Azka (berdasarkan kegiatan masak sejauh ini yang belum rutin), sedangkan bakat belum kami ketahui.


Sebagai orang tua pastilah ingin memberikan kegiatan yang bermanfaat. Namun yang perlu diingat jangan sampai membebani orang tua dan anak. Saran saya, fokus saja untuk mengerjakan yang bisa dan disenangi. Tanpa terbebani kegiatan keren di luar sana yang membuat kita atau anak frustasi melakukannya. Saya pun juga sedang tahap belajar mengenai hal tersebut.




Salam hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Thursday, September 21, 2017

Azka Bermain dengan Cuka dan Soda

Halo Teman-Teman,

Saya kembali akan mendokumentasikan kegiatan kami beberapa hari lalu. Saya melihat beberapa teman di media sosial saya memberikan kegiatan mainan semcam science foor kids yang sama. Intinya ingin mengenalkan fenomena semcam gunug meletus. Kurang lebih seperti itu.

Sebenarnya, untuk Azka sendiri, dia belum siap mengambil hikmah dari percobaan sains tersebut. Namun, ada alat dan bahan di dapur. Kenapa tidak ikut melakukannya?? hehe.





Bahannya cukup sederhana, namun untuk takaran saya rasa tergantung alat yang kita gunakan. Makin besar wadah yang kita gunakan, maka akan makin banyak pula bahan yang ditambahkan. Alat dan bahan hanya terdiri dar:
1. Baskom 1 buah
2. Cangkir 2 buah
3. Pewarna makanan 2 jenis (tergantung apa yang dimiliki)
4. Cuka dapur secukupnya
5. Soda kue secukupnya
6. Air secukupnya

Caranya, tuang air ke dalam cangkir, beri pewarna sampai terlihat mencolok, tambahkan cuka, dan tuang soda kue banyak-banyak. Voila! Akan muncul gelembung dan luber seperti gunung meletus. Bagi anak usia sekolah, atau yang menjelang sekolah, saya rasa sudah bisa dijelaskan secara sederhana fenomena ini. Bagi Azka, penjelasan tidaklah penting. Yang terpenting adalah main-main air, memberi warna, dan melihat busa keluar dari cangkir.

Kami tidak merencanakan permainan ini, sehingga permainan selesai ketika semua bahan habis. Tapi, eh tunggu, saya ingat masih memiliki air soda di kulkas. Lalu, saya mengambilnya, dan meminta Azka menuang di cangkir yang sudah terisi air, pearna, cuka, dan soda kue. Hasilnya? Luber juga dan dia senang sekali.

Botol air soda yang kosong kemudian saya isi minyak goreng dan saya minta Azka menuang air dalam cangkir ke botol air soda tersebut. Hasilnya? Minyak akan terpisah dengan air walaupun dikocok-kocok sedemikian rupa. Penjelasan mengenai tarik menarik molekul Polar dan Non-Polar sepertinya tidak menarik bagi Azka. Dia hanya tertarik dengan fenomena dua warna dalam satu botol. Dan tentu saja, kegiatan mengocok botol sesuka hati, hehehe.






Salam Hangat,


Astri

Monday, September 18, 2017

Belajar dari Captain Fantastic

 Halo Teman-Teman,

Awal bulan September lalu, saya membaca sebuah artikel yang di-publish oleh LINE. Artikel tersebut membahas tentang seorang peselancar Indonesia, yang memiliki tiga orang anak. Dia dan istrinya sepakat untuk tidak mensekolahkan semua anaknya. Belajar dari kehidupan dan mengikuti aktivitas orang tuanya yang memiliki Cafe di sebuah lereng bukit. Berdasarkan artikel tersebut yang ditulis singkat, diketahui bahwa mereka menerapkan Homeschooling untuk anak-anaknya dan menurut saya mereka menggunakan pendekatan Unschooling untuk seluruh kegiatannya.

Awalnya sih seperti artikel biasa, namun di akhir kalimat dituliskan bahwa banyak pengunjung yang sering terganggu dengan anak-anak, terutama yang lelaki. Kemudian, ada seorang pengunjung yang mengira bahwa anak-anak tersebut merupakan gelandangan, lalu dengan santainya anak lelaki itu menjawab "Wanita gila yang melayanimu itu, adalah ibuku".

Oke, dari satu kalimat ini, saya yakin muncul pro dan kontra. Maka, saya menengok ke bagian komentar. Dan betul saja keyakinan saya. Namun, fokus saya bukan di masalah pro dan kontra. Akan tetapi, banyak komentar bermunculan dengan kalimat kurang lebih, "Wah kayak Captain Fantastic nih".

Karena rasa penasaraan, maka ketika Azka sudah terlelap, saya mulai mencari filmnya.

(Sumber: http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ0yMNNA4Dtpk0kC9GrtCrXDW--GqJSJeTZbpsDhgSrSExrKEqp)

Film ini berceritakan tentang sebuah keluarga dengan Ayah bernama Ben Cash dan Ibu bernama Leslie. Mereka memiliki enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Suami dan istri tersebut sepakat untuk keluar dari kehidupan modern yang penuh dengan kapitalisme dan melanjutkan hidup di hutan ketika anak mereka yang pertama, Bo, berusia tiga tahun. Sempat berpindah, namun akhirnya menetap di hutan Pacific Northwest hingga memiliki enam orang anak. Mereka bertujuan untuk mendidik anak yang memiliki filosofi tentang hidup. Selain itu, anak-anak mereka dibentuk dengan fisik yang sehat, keterampilan bertahan hidup, dan tidak terpapar teknologi.

Tidak banyak diceritakan bagaimana mereka memulai kehidupannya dan tokoh Leslie disini pun sedikit sekali terlihat, sehingga penonton hanya menebak karakternya, berdasarkan dialog tokoh lain.

Ben mengambil alih penuh tanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Dia yang memimpin olah raga lari melintasi bukit setiap pagi, memimpin yoga, dan mengajari anak-anaknya bertarung. Ben juga memberi tugas baca kepada anak-anaknya, lalu mendiskusikan bersama-sama dengan duduk melingkar diterangi api unggun. Terlihat sekali bahwa mereka menerapkan keterbukaan dan diskusi dalam setiap kegiatannya.

Leslie didagnosa mengidap Bipolar, sehingga Ben meminta untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa di kota. Seperti biasa, Ben dan anak pertamanya, Bo, mencari kabar tentang istrinya itu, menggunakan telepon pinjaman sembari menjual hasil bumi ke sebuah toko lokal. Tak disangka sore itu membawa kabar yang mengagetkan. Leslie telah meninggal dunia karena menyayat sendiri nadinya.

Lalu, cerita beralih ke bagian Ben dan keenam anaknya keluar hutan dan menuju ke kota untuk menghadiri pemakaman Leslie.

Entah kenapa, saya suka sekali mengambil satu hingga dua kalimat dari sebuah film, untuk saya ingat sampai lama. Dan tidak jarang yang menjadi penyemangat saya dalam kehidupan. Mungkin, jika ada kesempatan saya akan menuliskannya beberapa. Di film Captain Fantastic ini pun ada dua kalimat yang sangat mengena.

Malam itu, ketika Ben dan Bo kembali dari toko lokal. Keenam anaknya berkumpul di kamar dan Ben masuk ke dalamnya. Mereka menatap ayahnya. Lalu Ben berkata,

"Semalam, ibu kalian meninggal dunia. Dia menyayat nadinya. Iya, akhirnya dia melakukannya. Tidak ada yang dapat mengubah itu dan kita tetap hidup dengan cara yang sama"

Kalimat selanjutnya yang dengan sengaja saya ingat adalah ketika keenam anak Ben memohon untuk hadir pada acara pemakaman istrinya. Namun, Ben menolak karena ayah dari Leslie pasti akan mengusir mereka. Ben pun memutuskan untuk tetap melakukan training fisik yaitu memanjat tebing batu. Tak disangka Rellian, salah satu anak lelaki Ben terpeleset hingga pergelangan tangannya mengalami cedera. Tali pengamannya masih membuatnya bergelantungan, tetapi karena rasa sakit maka Rellian pun kesulitan menggapai batu. Bukannya membantu, Ben malah berkata,

"Di duni ini tidak akan ada yang tiba-tiba hadir untuk menolongmu. Berusahalah!"

Menurut saya yang sudah mulai jarang menonton film, Captain Fantastic ini salah satu film yag layak untuk ditonton oleh orang tua. Secara singkat dan terisrat mengajari orang tua mengambil sebuah keputusan. Menunjukkan bahwa setiap keputusan selalu bersanding dengan konsekuensi yang terkadang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Cara seorang ayah yang tetap bertahan utnuk ideologinya dan tanggung jawab mendidik terhadap anak-anaknya, bukan hanya menghidupi mereka.

Dari semua yang sudah saya tuliskan, menurut saya hikmah terpenting yang bisa diambil bahwa pentingnya membentuk nilai-nilai dalam sebuah keluarga. Ketika suami dan istri membentuk sebuah nilai dan bekerja keras untuk mewujudkannya, maka anak-anak pun akan mengikutinya.




Salam hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Sunday, September 17, 2017

Azka, Seorang Anak Laki-Laki yang Bermain Masak-Masakan dan Boneka

Halo Teman-Teman,

Beberapa hari lalu ada sebuah kejadian. Lemari saya ambruk hingga seluruh isinya berantakan 😢
Karena hanya dengan melihat baju-baju berantakan cukup membuat saya lelah, maka saya memutuskan mengajak Azka ke lapangan kelurahan dulu. Orang sekitar menyebutnya dengan lapangan Town Hall. Ceritanya disini ya.

Setelah makan malam, suami saya berinisiatif memulai membereskan lemari. Lalu, kemanakah baju itu diletakkan?? Kami tidak ada lemari cadangan, sehingga diputuskan semua baju dimasukkan ke kontainer plastik. Masalahnya kontainer kami tidak ada yang kosong, sehingga suami saya meringkas barang agar yang tadinya barang ada di dua kontainer, diringkas menjadi satu kontainer.

Nah, pada proses meringkas ini, Azka ikut "nimbrung" dan menemukan peralatan makan yang sudah lama sekali saya simpan.

"Ini apa Mami?"
"Itu alat makan"
"Punya siapa?"
"Punya Azka, dulu waktu Azka lahir dapet kado banyak banget. Itu dari temen Mami, kalau yang itu dari temen Papi"

Kemudian, Azka merasa baha barang tersebut adalah penuh hak miliknya. Sementara saya sedang sibuk merapikan baju, saya melihat Azka bolak-balik, tetapi tidak tahu dari mana dan kemana arahnya. Saya mengecek Azka berkali-kali dan mengepel air yang ada di ruang tamu. Beberapa kali saya ngecek, kok air ada di lanta padahal saya pun juga sudah mengepelnya bolak-balik. Ternyata, Azka bolak-balik tadi adalah dari ruang tamu ke arah dispenser dan kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa gelas berisi air. Pantes saja, air berceceran dimana-mana.

Rupanya Azka sedang berimajinasi masak-masakan atau mebuat minum atau sebangsa itu lah. Azka sudah sejak lama mengincar untu bermain kompor yang sudah saya larang juga dengan keras. Mungkin permainan ini adalah salah satu pelampiasannya.

Saya seorang ibu yang tidak terlalu menggolongkan mainan terlalu ketat. Maksudnya, Azka saya bebaskan untuk bermain masak-masakan sesukanya. Pun juga saya biarkan bermain boneka beruang kesayangannya. Walaupun Azka memang jauh lebih suka dengan mainan berbau mobil-mobilan atau kendaraan konstruksi.





Pertimbangan saya tentang membiarkan Azka bermain permainan tersebut antara lain:
1. Permainan yang menurut banyak orang diasumsikan "mainan perempuan" biasanya justru melatih motorik halus anak-anak contohnya masak-masakan, mainan jepit rambut, memakaikan boneka baju, dll. Sementara yang diasumsikan "mainan laki-laki" biasanya melatih motorik kasarnya, contohnya sepak bola dan permainan olah raga lainnya.
Tujuan saya, melatih motorik halusnya agar memudahkan juga ketika nanti belajar menulis dan berkegiatan yang membutuhkan keterampilan motorik halus.

2. Menurut saya, permainan tidak memiliki jenis kelamin. Asumsi yang membuatnya berkelamin. Buktinya banyak chef laki-laki, pun penjahit laki-laki. Saya pun membiarkannya masak-masakan dan bermain boneka

3. Melatih empati dari berbagai sudut pandang. Maksudnya disni, mainan yang sekali lagi diasumsikan sebagai "mainan perempuan" biasanya justru yang kita lihat sehari-hari di rumah. Sementara yang diasumsikan "mainan laki-laki" justru jarang menjadi kegiatan yang dilakukan rutin dengan frekuensi yang besar. Maksudnya, umumnya kita akan lebih sering makan ketimbang bermain sepak bola. Dan harusya lebih sering membersihkan rumah daripada membenahi motor (untuk yang pekerjaannya bukan montir ya).
Tujuan saya, supaya Azka tahu bahwa dia pun harus bisa masak dan menjadi orang yang penyayang. Boneka beruang aja disayang, apalagi istrinya nanti. Lagipula, istri mana yang tidak suka dimasakin suaminya?? 😝

Namun, bukan tanpa batasan-batasan yang jelas. Secara garis besar, saya membatasi permainannya dalam hal:
1. Saya tetap mengingatkannya bahwa dia berkelamin laki-laki dan dia sudah mengetahuinya.
2. Saya tidak provide peralatan khusus masak-masakan karena belum tentu juga minatnya disini, kemungkinan karena sering melihat saya masak dan menurutnya tampak mengasyikan. Dia memasak menggunakan alat yang saat itu diasumsikannya sebagai peralatan masak.
3. Boneka yang dia punya hanya dua yaitu boneka beruang kesayangannya yang saya dapat dari kado wisuda dan boneka lebah hasil tantenya "mancing boneka" di Transmart Jogja. Saya tentu tidak memberikannya boneka Barbie atau boneka yang menunjukkan jenis kelamin perempuan.

Kami berusaha mengasuh Azka dengan memberi pengetahuan bahwa di laki-laki seperti Papi dan tidak bisa melahirkan seperti Mami. Sehingga bermain masak-masakan dan boneka pun tetap menjadikannya laki-laki yang suka main mobil-mobilan. In sya Allah.





Salam Hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Azka Mencoba Permainan 90-an

Halo Teman-Teman,

Kali ini saya ingin mendokumentasikan kegiatan Sabtu sore saya bersama Azka. Sore hari, cuaca sudah mulai cerah, saya mengajak Azka ke Lapangan Town Hall. Lapangan yang setau saya terbesar di kelurahan kami.

Sesampainya disana, ternyata sedang ada acara yang diselenggarakan Pemuda Pancasila. Katanya, akan ada pertemuan para anggota Pemuda Pancasila di lapangan itu, sehingga lapangan penuh dengan tenda-tenda. Maka, kami pun ke pasar yang ada di seberangnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimainkan. Ketemulah permainan gelembung anak era 90-an, hehe.

Anak 90-an angkat tangannya! Masih ingat kan produk kece satu ini?

Duduk di rumput sembari melihat pertandingan bola, kami meniup balon-balon ini dan ternyata Azka bisa meniupnya sendiri. Mainan murah meriah. Tiga buah seharga Rp 1.000 saja. Saya membelinya langsung 1 pak dengan isi 32 pcs seharga Rp 9.000.

Pegangnya gelembung tapi lihatnya bola

Ttt-iii-uuu-ppp




Salam Hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Thursday, September 14, 2017

Azka Si Anak Hobi Berjualan Es Krim

Halo Teman-teman,

Ini artikel kedua dari kegiatan kemarin, untuk kegiatan lainnya bisa dilihat disini dan disini ya.

Selain bermain balon air berwarna, kemarin saya juga mengajak Azka untuk membuat es krim. Bukan es krim rumit ala ala ibu rajin nan cerdas yang bertebaran di sosial media, hehehe. Kami hanya membuat es krim stroberi dengan bahan dasar bubuk es krim instan. Jika bermain peran, Azka suka sekali memainkan peran sebagai penjual es krim keliling dan bertiak "Es krim es krim, siapa mau beli?" sembari memukulkan tongkat atau apapun ke sepedanya, supaya terlihat sebagai "bel".

Kami bersama menyiapkan air yang diberi, menimbang bubuk es krim, menuang bubuk es krim dan air es ke baskom mixer, lalu mengaduknya bersama menggunakan mixer selama kurang lebih delapan menit. Azka mengikuti semua tahapannya, hingga memasukkan hasil mixing ke dalam kotak dan menyerahkan ke saya untuk dimasukkan ke dalam freezer.
Campur air es dan bubuk es krim



Mixing
Icip-icip

Tidak sampai disitu, dia pun mengumpulkan semua peralatannya, dan ditaruh ke dalam bak cuci. Saya tinggal mencucinya dan membersihkan lantai. Namun, sebelum dimasukkan ke bak cuci, adonan yang menempel di pengaduk dan sohlet dibersihkan dulu sama Azka. Bukan menggunakan tisu, tapi dia makan sampai bersih, haha. Sama dengan artikel sebelumnya. Azka mau ikut bebersih kegiatan kemarin karena sebelum memulai kami membuat kesepakatan untuk membersihkan semuanya bersama.

Aslinya, es krim ini direncanakan untuk dibuat sebagai pelengkap milk shake yang akan dibuat keesokan harinya. Kami juga berencana membuat pizza untuk makan malam. Namun, suami saya tiba-tiba meminta untuk membatalkan membuatnya karena sedang tidak selera makan pizza katanya. Akhirnya es krim pun disantap bersama justru malah saat sarapan. Semua pun gembira :)





Salam Hangat,


Astri

Azka dan Balon Air Buatan Sendiri

Halo Teman-teman,

Kali ini saya ingin mendokumentasikan kegiatan Azka kemarin. Cukup padat hari kami karena selain pekerjaan domestik rutin seperti biasanya, Azka juga melewatkan tidur siangnya. Jadilah kami bermain-main. Seperti biasanya, permainan kami selalu spontan dan jauh dari printilan yang membutuhkan banyak tenaga.

Sembari saya menyiapkan makan siang dan racik-racik persiapan makan malam, saya dan Azka bermain air warna. Ide ini terinspirasi dari serial kartun Diva yang pernah kami lihat bersama. Sederhana saja bahanya. Cukup menyiapkan plastik bening, pewarna makanan seadanya di rumah, baskom, water jug, dan pipet tetes. Cara mainnya, plastik bening dibuka dan digulung, kemudian dituang air ke dalamnya, dan ditambahkan pewarna. Penambahan warna ini dilakukan menggunakan pipet tetes. Untuk membuka dan menggulung plastik bening saya yang melakukannya, sedangkan selain itu Azka bekerja mandiri. Maklum, saya kan nyambi-nyambi masak, hehe. Berhubung stok pewarna makanan kami tidak banyak, maka saya meminta Azka untuk mencampur dua warna, sehingga muncul warna lainnya.

Siap-siap menaruh air



Pakai water jug yang terbuat dari plastik ya
Beri pewarna makanan (bisa campur-campur sesuka hati)
"Balon" air warna-warni
Sebenarnya, sudah jauh hari Azka mengerti berbagai ragam warna. Seperti warna dasar merah, kuning, hijau, biru dan juga warna lain yaitu ungu, pink, abu-abu, hitam, coklat, bahkan mint. Intinya semua sudah dimengerti, tugas saya untuk membuat Azka lebih konsisten menyebutnya dalam bahasa Inggris. Seidkit bercerita, awalnya kami mengajari Azka warna merah, kuning, dan hijau. Alasannya, karena mudah ditemui disetiap persimpangan jalan. Memang awalnya selalu salah, terkadang jika tidak tahu harus menjawab apa, maka selalu diakhirinya dengan jawaban "warna coklat". Hanya saja, cerita bagaimana tiba-tiba Azka bisa tahu semua warna, saya lupa. Seingat saya, hanya dia sering melihat video di Youtube tentang pengenalan warna dalam bahasa Inggris, kemudian rajin ditanya-tanya. Setelah itu otomatis bisa.

Kembali ke acara permainan hari kemarin. Setelah air dan pewarna tercampur, kemudian saya mengikatnya menjadi seolah-olah balon. Lalu, anehnya Azka meminta untuk mengikatkannya di tiang gorden. Mungkin terinspirasi dari serial kartun Diva yang juga mengikatnya di ranting pohon.

Minta digantung di tiang gorden
Hal terpenting dari semua ini adalah tidak hanya permainan sederhana yang bisa melatih motorik dan membangkitkan minat bercerita anak. Melainkan juga saya berusaha mengajarkan kedisiplinan. Sebelum kami bermain, saya memberi pengertian jika permainan ini akan membuat rumah kotor. Sehingga, kami membuat kesepakatan untuk membersihkannya bersama-sama. Dan Alhamdulillah Azka menepatinya. Dia mencuci baskom penuh warna di kamar mandi tanpa mau dibantu. Setelah itu, bagian saya yang membersihkan lantai, dan menaruh pewarna makanan kembali ke tempatnya.

Anak-anak akan selalu menyenangi seluruh kegiatan yang kita siapkan, sejauh kita juga senang menyiapkannya. Jika sedang tidak bisa membuat sendiri, namun mampu untuk membeli. Maka, belilah secukupnya dan bermainlah dengan rasa gembira. Begitu pula jika tidak ingin membeli karena memiliki waktu luang. Bangun lah rasa gembira. Ibu yang gembira akan membuat keluarganya bahagia. Apakah saya selalu bahagia?? Tidak, seperti jalanan ke pegunungan, naik-turun dan kadang menyesali dengan apa yang pernah saya perbuat. Semoga Allah mempermudah jalan kita ya :)

Kegiatan lain di hari kemarin bisa lihat disini dan disini.





Salam Hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

Wednesday, September 13, 2017

Sangatta Part 2: Mau pindah kesini?? Baca ini dulu!

Halo Teman-teman,

Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas pendahuluan tentang kota Sangatta. Bagaimana menuju ke Sangatta? Bagaimana tempat tinggal di Sangatta? Bagaimana kalau ingin belanja? Apakah ada tempat hiburan keluarga? Bagaimana dengan fasilitas kesehatan di Sangatta? Kalau belum membaca, silahkan klik disini ya.

Langsung saja, untuk informasi lain yang saya rasa cukup penting diketahui sebelum menjejakkan kaki di Sangatta.

5. Pusat pencarian informasi
Maksud dari judul poin di atas bukan lah kantor pemerintah daerah atau semacam call center yang bisa dihubungi 24 jam ya. Melainkan, warga disini biaa mencari informasi dari grup jual beli yang ada di Facebook. Iya, grup jual beli tetapi dalam prakteknya banyak juga informasi yang ditulis disana. Nama grup nya Forum Jual Beli Sangatta Kutai Timur (FJBS). Ada baiknya, sebelum pindah kesini, bisa add grup ini dulu.
Di grup FB yang ketika saya tulis artikel ini, anggotanya telah mencapai 135.000 akun Facebook. Disini seperti namanya, anggota grup bisa memposting dagangannya, pun kita bisa juga posting apabila ingin mencari barang. Namun tidak hanya itu, di grup ini sering juga diposting info lowongan kerja berbagai macam profesi. Baik kerja untuk perorangan seperti ART atau supir, ada pula pegawai untuk berbagai macam tempat usaha, sampai lowongan untuk kerja di perusahaan tambang (umumnya kontraktor tambang). Grup ini juga sering memposting info terjadinya kecelakaan, jalanan yang rusak karena hujan, info orang hilang, dan sangat sering sekali diposting tentang keberadaan buaya yang muncul ke area pemukiman warga. Iya, disini masih banyak buaya dan orang menyebutnya dengan Monster Sangatta. Pernah pula saya membaca postingan di grup ini, kalau ada kerabatnya yang hilang saat main di sungai, kemungkinan dimakan buaya. Barusan juga ada postingan, seorang ibu yang digigit buaya hingga terluka karena ke sungai (atau rawa-rawa, saya kurang jelas infonya) saat subuh dan langit masih gelap gulita.

Nah bagi Anda yang ingin mencari info rumah dikontrakkan, carilah di grup ini. Jangan di olx, karena bakal susah ketemunya, hehehe.

6. No gojek, no Grab, no Uber, no worry. Just call Jakuza!!
Saya menebak Jakuza ini adalah singkatan dari Jasa angKUT ZAngatta. Tujuannya pun sama seperti gojek, grab, dan uber yaitu mempermudah masyarakat yang tidak bisa kemana-mana atau hanya sekedar malas untuk kemana-mana. Jakuza ini menerima order baik mengambilkan paket, mengirim paket, mengantar makanan, minta diambilkan makanan, atau ojek. Biasanya kurir Jakuza aktif di grup FJBS dan sering membagikan nomor yang dapat dihubungi.
Perbedaan Jakuza dengan ojek online yang populer itu adalah:
- Untuk menghubungi kurir masih menggunakan telpon dan SMS. Sangat sering terjadi sudah kontak Jakuza langganan, namun yang bersangkutan sedang tidak bekerja. Atau sudah mengontak lama, tidak kunjung ada balasan.
- Order kita tidak bersifat eksklusif, artinya para kurir Jakuza ini sekali angkut bisa bawa banyak barang. Artinya, pengantaran pun tidak bisa cepat karena dilakukan sesuai urutan jarak dimana kurir tersebut berada.
- Tidak 24 jam, setau saya rata-rata kurir ini sudah tidak beroperasi lebih dari jam 22.000 WITA.

7. Pelayanan umum
Pelayanan umum yang pernah saya kunjungi adalah kantor desa Swarga Bara, SAMSAT, dan kantor imigrasi. Untuk kantor desa Swarga Bara, kami beberapa kali minta surat domisili untuk kepentingan administrasi. Pelayanannya?? Terbilang bagus dan cepat. Meskipun banyak pegawai yang membawa anak, saya tidak pernah menunggu lebih dari 15 menit untuk selembar surat keterangan domisili. Justru di Jogja saya sering bolak-balik atau menunggu lama untuk kepengurusan semacam ini. Sementara ke SAMSAT karena berniat balik nama kendaraan kami. SAMSAT di kota kecil tentulah pengunjungnya tidak membludak dan yang jelas tidak ada calo. Pelayanannya?? Cepat dan sangat membantu, bayarnya pun sesuai yang tertera tanpa ada tambahan apapun. Sementara, kantor imigrasi disini tergolong baru karena kalau tidak salah baru ada akhir 2016. Dibukanya kantor imigrasi Cabang Samarinda di Sangatta sepertinya untuk memudahkan warga Sangatta dan sekitarnya untuk mengurus paspor, tanpa harus ke Samarinda. Disini, Azka dan suami membuat paspor baru, sedangkan saya hanya memperpanjang. Pelayanannya?? Wah sangat sangat sangat membantu dan prosesnya cepat. Proses cepat ini didukung juga karena antrean tidak mengular. Tempatnya sepi, bersih, dan ramah anak karena disediakan mini indoor playground, sehingga anak tidak bosan. Beda waktu di Jogja dulu, untuk ke imigrasi harus datang pagi-pagi agar dapat nomor antrean kecil. Sudah datang setelah sholat subuh saja masih dapat nomor antrean besar, hahaha.

Tidak menyangka kan, kota sekecil ini pelayanan umumnya di atas rata-rata. Semoga selalu seperti ini.

8. Kuliner
Sebenarnya saya sedang proses menyusun artikel khusus kuliner di Sangatta. Nantinya, in sya Allah saya akan membahas masing-masing tempat makan yang pernah kami kunjungi. Namun, pada artikel ini saya akan mengulasnya secara umum.
Kuliner di Sangatta memang tidak ada yang terlalu khas, seperti gudeg dan bakpia di Jogja. Tetapi jangan salah, variasi makanan disini cukup banyak lho. Rata-rata penjualnya ya orang Sangatta sendiri. Baik yang telah mempunyai kedai, ataupun usaha rumahan yang menggunakan jasa Jakuza untuk delivery.
Untuk gerai besarnya, disini ada KFC. Sepengamatan saya harganya sedikit lebih mahal dari di Pulau Jawa. Pun terkadang paket Chaki sering hilang karena sering sekali kehabisan stok mainan, hehehe. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi ada mainan anak ciri khas KFC. Ada juga Mocco Factory, semacam cafe donat dan frappe yang mirip-mirip dengan J.co lah. Rasa dan variannya dibawah J.co tetapi menurut saya lumayan enak. Ada lagi Suki Ya, semcam tempat makan suki seperti X.O suki, tetapi dengan varian yang jauh lebih sedikit ya, hehehe. Entah kenapa kalau makan di Suki Ya ini, bertiga habisnya tidak pernah kurang dari Rp 260.000. Baik KFC, Mocco Factory, maupun Suki Ya letaknya ada di lantai 1 Sangatta Town Center (STC). Oh iya, di lantai 1 STC ini juga ada kedai burger gitu, tetapi saya belum pernah kesana. Awal kami disini, juga ada Bakso Lapangan Tembak, tetapi sepertinya sepi peminat, jadi ditutup dan digantikan tempat hiburan Fun Station.
Sementara, untuk varian makanan lainnya masih banyak. Mulai dari jajanan anak seperti pentol rebus, pentol goreng, pentol tahu bakar, tempura, dan sebangsanya. Juga ada nasi kuning Banjar, aneka maknanan Jawa Timuran, dan banyak tersedia makanan khas Makassar seperti coto makassar dan teman-temannya atau kapurung khas Palopo. Untuk steak juga ada yang kaki lima, hingga steak kualitas premium dengan harga kisaran Rp 150.000 ke atas. Banyak juga yang menjual pizza, salah satunya dekat rumah kami. Makanan jepang seperti sushi dan ramen pun tidak sulit mencarinya. martabak telor dan terang bulan, bertebaran saat malam hari.
Favorit kami salah satunya adalah tempat makan yang menyediakan pemancingan. Azka jarang sekali betah di Mall, tetapi kalau mancing, hujan angin deras pun tidak mau minggir, hehe.

Intinya, janagan kuatir masalah makanan. Malas pergi pun rata-rata penjual makanan disini menyediakan sistem delivery (mereka sudah punya langganan Jakuza). Satu pesan saya, turunkan ekspektasi rasa Anda. Umumnya kalau di Pulau Jawa, jika mencoba satu makanan dan rasanya mengecewakan, bisa mencari tempat lain. Disini, penjualnya tidak sebanyak Jawa, jadi jika ingin donat sekelas J.co dan tidak menurunkan standar rasanya ya siap-siap saja kecewa.

9. Olah raga dan komunitas
Saya belum pernah terjun langsung ke dunia ini, tetapi sudah mulai mengamati siapa tau bisa buat bekal Azka kelak. Olah raga disini menurut saya cukup lengkap. Ada klub bola, renang, tenis, basket, voli, baseball, kriket, bulu tangkis, sepatu roda, panjat tebing, bahkan juga memanah. Banyak kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan di pusat olah raga di Town Hall. Kotanya kecil, tetapi sarana olah raga dan klub yang mendukungnya tidak bisa dianggap remeh. 


Sekiranya delapan poin ini sudah cukup menggambarkan bagaimana jika akan pindah ke Sangatta. Semua akan baik-baik saja jika kita bersedia mnurunkan sedikit standar dari kehidupan di Jawa. Walaupun menurunkan standar bukan berarti harus menurunkan ekspektasi harga ya. Disini jarang yang murah, minimal harga seperti Jakarta, hehehe. Banyak yang hijrah kesini ikut dengan suaminya, namun di tengah jalan minta pulang ke Jawa. Kalau sepengetahuan saya, memang di rantau yang tidak ada saudara, kita dibutuhkan mental yang tangguh dan siap kesepian dalam jangka waktu yang tidak diketahui. Kalau ada teman dan saudara kan bisa kumpul kapan saja. Kalau di rantau yang tidak ada kenalan, siap-siap saja jika sudah punya anak namun masih balita, setahun pertama akan banyak dihabiskan di rumah. Apalagi suami seharian bekerja. Tidak ada kenalan, tidak ada tempat hiburan, tidak ada solusi lain selain rumah. Bagi yang tidak bisa mendapat solusi dari rasa bosa tadi, biasanya menyerah dan kembali ke Jawa, sedangkan suaminya kembali masuk mess. Saya kira ini juga bisa menjadi bahan pertimbangan, karena biaya untuk pindahan tidak lah sedikit. Jika baru sebentar, kemudian bosan, dan meminta kembali ke Jawa menurut saya sangat sayang biayanya.




Salam hangat,

Astri