Saya berpikir bahwa sudah terlalu terlambat, tetapi saya memutuskan untuk tidak menjadi yang paling lambat.
Sekiranya kalimat tersebut sudah cukup menjelaskan bahwa saya orang yang tidak pernah belajar parenting. Tidak pernah disini dalam artian mengikuti seminar dan tergabung dalam sebuah komunitas. Sejauh ini, saya hanya berbekal dari diskusi non-formal dengan teman, membaca bersumber buku dan internet, serta yang pasti menggunakan intuisi.
Oh iya, lupa. Perkenalkan nama saya Astri. Seorang ibu yang saat ini baru memiliki satu anak laki-laki usia 2 tahun 8 bulan, bernama Azka. Saya sendir mengikuti tugas suami dan berada sebuah kecamatan kecil bernama Sangatta, Kalimantan Timur.
Kembali ke bagian belajar pengasuhan, ada baiknya saya bercerita mengenai alasan dibalik saya belum pernah secara formal mempelajari parenting.
Saat saya berkuliah dulu, keadaan keuangan keluarga tidak terlalu baik. Sehingga, saya harus mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan kuliah seperti fotocopy, membeli buku, atau sekedar membeli alat tulis. Saya pun tidak menaruh perhatian ketika ada beberapa teman saya yang sudah memulai mengikuti seminar parenting. 'Nanti dulu lah' begitu kata saya, toh saya tidak ada niatan menikah dalam waktu dekat karena ingin memperbaiki hidup terlebih dahulu. Dan mindset seperti ini adalah salah besar. Bagi Anda yang membaca tulisan saya dan belum menikah namun keadaan memungkinkan mengikuti seminar parenting, maka ikutilah. Ada dana dan waktu, maka sempatkan lah. Jangan mengulang kesalahan saya. Karena ilmu parenting adalah bekal seumur hidup. Tidak ada kata terlalu awal untuk memulai.
Singkat cerita, saya menikah usia 23tahun disaat teman-teman saya belum ada yang menikah. Saya dan suami sangat fakir ilmu parenting, sehingga tidak ada bayangan akan seperti apa pola pengasuhan anak nantinya. Ditambah lagi kami memang hanya bertemu 20hari sebelum pernikahan, serta kami ada dalam kondisi Long Distance Marriage dimana suami kerja di sebuah remote area susah signal dan hanya pulang 2 Bulan sekali. Kondisi seperti ini kami jalani selama 3,5tahun.
Saya hamil Azka di usia pernikahan masuk enam Bulan. Saat itu saya juga masih kuliah dan mengejar target penelitian agar lulus tepat waktu karena ada tanggungan beasiswa. Hari-hari saya lalui untuk membaca jurnal, membuat presentasi, berburu bahan penelitian, hingga menyampingkan pengetahuan tentang kehamilan dan parenting. Belajar mengenai hal tersebut hanya disela-sela waktu dan sisa tenaga yang ada.
Kemudian lahir lah azka dan oomatis dia sering saya bawa ke kampus karena tidak bisa menunda penelitian dan saya juga tidak punya ART sehingga jika memungkinkan dia untuk dibawa, ya saya bawa. Sehari-hari jika saya ke kampus, azka dititipkan bersama oman
-nya. Saya yang bolak-balik kampus rumah jika ASI habis atau hal semacamnya. Inilah salah satu alasan saya tidak melanjutkan karir setelah lulus Master. Meskipun masih LDM juga dengan suami.
Ditengah jarak yang memisahkan kami, tetiba suami mendapat info tentang Homeschooling (HS) dan memberi 'signal' ingin anak kami kelak didik dengan HS. Saya yang bingung. Sudah LDM, susah komunikasi karena kendala signal, dan yang jelas minim pengetahuan tentang HS. Secara pribadi, saya sendiri sudah pernah membaca tentang HS sejak SMA, namun saya bingung bagaimana memulainya, apa prinsipnya, bagaimana saya harus melakukannya, bagaimana sosialisasi anak kita nantinya, bagaimana menentukan kurikulumnya, dan sebagainya. Dulu, saya berasumsi bahwa anak HS adalah anak yang tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah formal sehingga memilih HS agar lebih nyaman. Ternyata anggapan saya salah setelah mengikuti webinar dari rumah inspirasi.
Bagaimana pengalaman saya mendapat pencerahan dari Mbak Lala dan Mas Aar yang mengampu Rumah Inspirasi, sebuah situs tentang seluk-beluk HS yang pernah dijalaninya?
Apakah Anda juga ada dalam kondisi yang sama seperti saya?
Apakah dengan tidak ada ART adalah bencana?
Bagaimana jika kita tinggal di rantau yang tidak ada orang tua atau saudara untuk membantu?
Baca tulisan saya berikutnya ya :)
Salam hangat,
Astri
No comments:
Post a Comment