Friday, September 22, 2017

Punya Diapers Bekas? Bisa lho Dibuat Mainan

Halo Teman-teman,

Di artikel saya akan sedikit berbagi mengenai kegiatan kami di hari Jumat lalu. Kebetulan saya sempat khilaf membeli pospak untuk Azka. Entah saya lagi kurang minum Aqua sepertinya. Bbeberapa bulan lalu, saya membeli pospak untuk newbor yang akhirnya hanya teronggok di kontainer dan tidak terpakai. Nah, kebetulan saya tergabung di grup Institut Ibu Profesional area Kalimantan Timur dan Utara atau yang disingkat IIP Foundation Kaltimra. Cerita kegiatan pribadi saya mengembangkan diri, In sya Allah dituliskan di blog lain ya. Silahkan singgah dengan klik disini.

Nah, di grup IIP hari Jumat adalah jadwal berbagi DIY yang dilakukan hari itu atau dilakukan selama seminggu belakangan. Semua ibu prof di grup ini keren. Salah satunya berbagi tentang ide bermain hidrogel yang didapat dari pospak. Sebenarnya, saya sudah sangat jauh-jauh hari mengetahui hal ini. Tetapi tidak pernah ada greget untuk menjalankannya. Komunitas ini lah yang membuat saya langsung bergerak saat itu juga. Bagi yang butuh suntikan semangat dan mencari komunitas yang saling mendukung satu sama lain bisa ikut bergabung kok. Caranya saya tuliskan di blog saya satunya ya. Sekali lagi, silahkan klik disini.

Alat dan bahannya saya tuliskan ya:
1. Pospak ata popok sekali pakai atau diapers
Bisa merk apa saja. Setau saya, semua merk saat ini sudah menggunakan bahan gel yang dapat menyerap cairan. Itu kenapa pantat bayi tetap kering waaupun pipis berkali-kali.
2. Pewarna makanan
Bisa warna apa saja. Kebetulan yang ada di rumah kami warna merah tua, merah muda, dan hijau
3. Air
4. Baskom
5. Mainan atau alat peraga apapun
6. Pipet tetes (optional)

Caranya mudah sekali. Sobek pospak, ambil isinya. Sebelum dikasih air, isinya akan terkihat seperti kapas. Tidak masalah. Kemudian dimasukkan ke dalam baskom. Tuang air ke dalam baskom, maka akan terlihat perubahan dari kapas tadi menjadi gel. Kemudian beri pewarna makanan. Lebih afdol memberinya menggunakan pipet. Supaya melatih motorik halus anak. Lalu, berkreasilah.
Di grup IIP, permainan ini digunakan sebagai ajang belajar berhitung dengan menancapkan sedotan di tumukan hidrogel berwarna. Bisa juga membentuk huruf dari hidrogel. Namun, Azka tidak tertarik dengan itu semua. Seperti biasa, dia mengambil mainannya. Mobil-mobilan, eskafator, dan sendok. Bermain lah imajinasinya.



Sempat membuat tiruan es serut. Azka mukanya lelah 😁

Oh iya, permainan ini tidak bertahan lama di Azka. Dia bosan, hanya bermain sekitar lima belas menit saja.

Memang terkadang persepsi dan ekspektasi kita akan berlawanan dengan kenyataan. Menyiapkannya lama dan lelah. Bermain efektifnya hanya sebentar. Tidak masalah, jangan paksakan keinginan kita ke anak. Menurut saya, jangan pula menyalahkan anak atas rasa lelah kita yang serasa tidak dihargai.

Guna menghindari hal tersebut, saran saya jangan membuat aktifitas yang terlalu melelahkan. Walaupun memang, di luar sana banyak kegiatan keren yang menarik untuk dilakukan. Tetapi, kalau mebuat kita lelah dan marah, untuk apa? Niat baik kita justru tidak tersampaikan.




Salam hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

Making Funny Fun Pizza

Halo Teman-teman,

Dua hari lalu, hari kamis saat suami off, akhirnya terlaksana membuat pizza untuk makan siang. Oh iya, judul artikel ini diambil dari lagu salah satu Youtuber favorit Azka bernama Blippi. Berhubung kami tidak memiliki oven, maka kami membuat pizza dengan Happy Call Double Pan. Resep yang kami gunakan didapat dari sini.

Tidak seperti yang tertera pada link tersebut, bahan yang saya gunakan menggunakan bahan yang sudah ada di kulkas tanpa beli sama sekali. Maka, topping yang kami gunakan hanya saus tomat, jagung manis, bawang bombay, dan sosis ayam. Sementara, kejunya hanya menggunakan Kraft Quick Melt. Tepung yang saya gunakan adalah terigu serba guna.

Kami memiliki jadwal makan siang jam 12.00 WITA, maka saya mulai membuat adonan pukul 10.00 WITA mengingat adonan harus didiamkan selama satu jam. Pada kegiatan ini, Azka bertugas menghias pizza. Tentunya dengan pengawasan. Kami mulai menghias pukul 11.00 WITA, sehingga selesai Alhamdulillah tepat pukul 12.00 WITA. Walaupun tidak terlalu ketat, saya membiasakan beberapa hal penting harus memiliki jadwal pasti. Salah satunya jadwal makan.

Kami makan bersama ditemani minum milkshake. Alhamdulillah.

Mengoleskan saus tomat dan menaruh topping sayuran

Menaburkan keju Kraft Quick Melt
Maksud Azka bilang "piis" sebelum adonan dipanggang, hehe
Makan pizza anget-anget. Nggak punya loyang, nggak masalah. Ada kertas nasi, hehe


Hikmah yang bisa diambil adalah:
1. Azka senang kegiatan menghias
Kegiatannya hanya menghias topping, sehingga tugas saya disini adalah membuat adonan, meracik hingga menumis sayuran, dan menempatkan semua alat serta bahan agar Azka dapat mudah mengerjakan kegiatannya.

2. Kami mengambil kesimpulan perlu mengambil jadwal rutin untuk memasak
Saya dan suami berencana untuk membuat kegiatan masak rutin sebulan dua kali. Hal ini di luar kegiatan Azka setiap hari untuk membantu saya memasak. Semampu dia tentunya.

3. Banyak yang bisa dipelajari dari memasak
Melatih motorik halus dan kasar, mengenalkan nama sayuran (walaupun Azka sudah paham tentang sayur sebelum usia dua tahun), membantu kami selaku orang tua mengetahui minat dan bakat Azka. Sejauh ini memasak bisa dibilang minat Azka (berdasarkan kegiatan masak sejauh ini yang belum rutin), sedangkan bakat belum kami ketahui.


Sebagai orang tua pastilah ingin memberikan kegiatan yang bermanfaat. Namun yang perlu diingat jangan sampai membebani orang tua dan anak. Saran saya, fokus saja untuk mengerjakan yang bisa dan disenangi. Tanpa terbebani kegiatan keren di luar sana yang membuat kita atau anak frustasi melakukannya. Saya pun juga sedang tahap belajar mengenai hal tersebut.




Salam hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Thursday, September 21, 2017

Azka Bermain dengan Cuka dan Soda

Halo Teman-Teman,

Saya kembali akan mendokumentasikan kegiatan kami beberapa hari lalu. Saya melihat beberapa teman di media sosial saya memberikan kegiatan mainan semcam science foor kids yang sama. Intinya ingin mengenalkan fenomena semcam gunug meletus. Kurang lebih seperti itu.

Sebenarnya, untuk Azka sendiri, dia belum siap mengambil hikmah dari percobaan sains tersebut. Namun, ada alat dan bahan di dapur. Kenapa tidak ikut melakukannya?? hehe.





Bahannya cukup sederhana, namun untuk takaran saya rasa tergantung alat yang kita gunakan. Makin besar wadah yang kita gunakan, maka akan makin banyak pula bahan yang ditambahkan. Alat dan bahan hanya terdiri dar:
1. Baskom 1 buah
2. Cangkir 2 buah
3. Pewarna makanan 2 jenis (tergantung apa yang dimiliki)
4. Cuka dapur secukupnya
5. Soda kue secukupnya
6. Air secukupnya

Caranya, tuang air ke dalam cangkir, beri pewarna sampai terlihat mencolok, tambahkan cuka, dan tuang soda kue banyak-banyak. Voila! Akan muncul gelembung dan luber seperti gunung meletus. Bagi anak usia sekolah, atau yang menjelang sekolah, saya rasa sudah bisa dijelaskan secara sederhana fenomena ini. Bagi Azka, penjelasan tidaklah penting. Yang terpenting adalah main-main air, memberi warna, dan melihat busa keluar dari cangkir.

Kami tidak merencanakan permainan ini, sehingga permainan selesai ketika semua bahan habis. Tapi, eh tunggu, saya ingat masih memiliki air soda di kulkas. Lalu, saya mengambilnya, dan meminta Azka menuang di cangkir yang sudah terisi air, pearna, cuka, dan soda kue. Hasilnya? Luber juga dan dia senang sekali.

Botol air soda yang kosong kemudian saya isi minyak goreng dan saya minta Azka menuang air dalam cangkir ke botol air soda tersebut. Hasilnya? Minyak akan terpisah dengan air walaupun dikocok-kocok sedemikian rupa. Penjelasan mengenai tarik menarik molekul Polar dan Non-Polar sepertinya tidak menarik bagi Azka. Dia hanya tertarik dengan fenomena dua warna dalam satu botol. Dan tentu saja, kegiatan mengocok botol sesuka hati, hehehe.






Salam Hangat,


Astri

Monday, September 18, 2017

Belajar dari Captain Fantastic

 Halo Teman-Teman,

Awal bulan September lalu, saya membaca sebuah artikel yang di-publish oleh LINE. Artikel tersebut membahas tentang seorang peselancar Indonesia, yang memiliki tiga orang anak. Dia dan istrinya sepakat untuk tidak mensekolahkan semua anaknya. Belajar dari kehidupan dan mengikuti aktivitas orang tuanya yang memiliki Cafe di sebuah lereng bukit. Berdasarkan artikel tersebut yang ditulis singkat, diketahui bahwa mereka menerapkan Homeschooling untuk anak-anaknya dan menurut saya mereka menggunakan pendekatan Unschooling untuk seluruh kegiatannya.

Awalnya sih seperti artikel biasa, namun di akhir kalimat dituliskan bahwa banyak pengunjung yang sering terganggu dengan anak-anak, terutama yang lelaki. Kemudian, ada seorang pengunjung yang mengira bahwa anak-anak tersebut merupakan gelandangan, lalu dengan santainya anak lelaki itu menjawab "Wanita gila yang melayanimu itu, adalah ibuku".

Oke, dari satu kalimat ini, saya yakin muncul pro dan kontra. Maka, saya menengok ke bagian komentar. Dan betul saja keyakinan saya. Namun, fokus saya bukan di masalah pro dan kontra. Akan tetapi, banyak komentar bermunculan dengan kalimat kurang lebih, "Wah kayak Captain Fantastic nih".

Karena rasa penasaraan, maka ketika Azka sudah terlelap, saya mulai mencari filmnya.

(Sumber: http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ0yMNNA4Dtpk0kC9GrtCrXDW--GqJSJeTZbpsDhgSrSExrKEqp)

Film ini berceritakan tentang sebuah keluarga dengan Ayah bernama Ben Cash dan Ibu bernama Leslie. Mereka memiliki enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Suami dan istri tersebut sepakat untuk keluar dari kehidupan modern yang penuh dengan kapitalisme dan melanjutkan hidup di hutan ketika anak mereka yang pertama, Bo, berusia tiga tahun. Sempat berpindah, namun akhirnya menetap di hutan Pacific Northwest hingga memiliki enam orang anak. Mereka bertujuan untuk mendidik anak yang memiliki filosofi tentang hidup. Selain itu, anak-anak mereka dibentuk dengan fisik yang sehat, keterampilan bertahan hidup, dan tidak terpapar teknologi.

Tidak banyak diceritakan bagaimana mereka memulai kehidupannya dan tokoh Leslie disini pun sedikit sekali terlihat, sehingga penonton hanya menebak karakternya, berdasarkan dialog tokoh lain.

Ben mengambil alih penuh tanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Dia yang memimpin olah raga lari melintasi bukit setiap pagi, memimpin yoga, dan mengajari anak-anaknya bertarung. Ben juga memberi tugas baca kepada anak-anaknya, lalu mendiskusikan bersama-sama dengan duduk melingkar diterangi api unggun. Terlihat sekali bahwa mereka menerapkan keterbukaan dan diskusi dalam setiap kegiatannya.

Leslie didagnosa mengidap Bipolar, sehingga Ben meminta untuk dirawat di Rumah Sakit Jiwa di kota. Seperti biasa, Ben dan anak pertamanya, Bo, mencari kabar tentang istrinya itu, menggunakan telepon pinjaman sembari menjual hasil bumi ke sebuah toko lokal. Tak disangka sore itu membawa kabar yang mengagetkan. Leslie telah meninggal dunia karena menyayat sendiri nadinya.

Lalu, cerita beralih ke bagian Ben dan keenam anaknya keluar hutan dan menuju ke kota untuk menghadiri pemakaman Leslie.

Entah kenapa, saya suka sekali mengambil satu hingga dua kalimat dari sebuah film, untuk saya ingat sampai lama. Dan tidak jarang yang menjadi penyemangat saya dalam kehidupan. Mungkin, jika ada kesempatan saya akan menuliskannya beberapa. Di film Captain Fantastic ini pun ada dua kalimat yang sangat mengena.

Malam itu, ketika Ben dan Bo kembali dari toko lokal. Keenam anaknya berkumpul di kamar dan Ben masuk ke dalamnya. Mereka menatap ayahnya. Lalu Ben berkata,

"Semalam, ibu kalian meninggal dunia. Dia menyayat nadinya. Iya, akhirnya dia melakukannya. Tidak ada yang dapat mengubah itu dan kita tetap hidup dengan cara yang sama"

Kalimat selanjutnya yang dengan sengaja saya ingat adalah ketika keenam anak Ben memohon untuk hadir pada acara pemakaman istrinya. Namun, Ben menolak karena ayah dari Leslie pasti akan mengusir mereka. Ben pun memutuskan untuk tetap melakukan training fisik yaitu memanjat tebing batu. Tak disangka Rellian, salah satu anak lelaki Ben terpeleset hingga pergelangan tangannya mengalami cedera. Tali pengamannya masih membuatnya bergelantungan, tetapi karena rasa sakit maka Rellian pun kesulitan menggapai batu. Bukannya membantu, Ben malah berkata,

"Di duni ini tidak akan ada yang tiba-tiba hadir untuk menolongmu. Berusahalah!"

Menurut saya yang sudah mulai jarang menonton film, Captain Fantastic ini salah satu film yag layak untuk ditonton oleh orang tua. Secara singkat dan terisrat mengajari orang tua mengambil sebuah keputusan. Menunjukkan bahwa setiap keputusan selalu bersanding dengan konsekuensi yang terkadang tidak pernah terpikirkan sama sekali. Cara seorang ayah yang tetap bertahan utnuk ideologinya dan tanggung jawab mendidik terhadap anak-anaknya, bukan hanya menghidupi mereka.

Dari semua yang sudah saya tuliskan, menurut saya hikmah terpenting yang bisa diambil bahwa pentingnya membentuk nilai-nilai dalam sebuah keluarga. Ketika suami dan istri membentuk sebuah nilai dan bekerja keras untuk mewujudkannya, maka anak-anak pun akan mengikutinya.




Salam hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Sunday, September 17, 2017

Azka, Seorang Anak Laki-Laki yang Bermain Masak-Masakan dan Boneka

Halo Teman-Teman,

Beberapa hari lalu ada sebuah kejadian. Lemari saya ambruk hingga seluruh isinya berantakan 😢
Karena hanya dengan melihat baju-baju berantakan cukup membuat saya lelah, maka saya memutuskan mengajak Azka ke lapangan kelurahan dulu. Orang sekitar menyebutnya dengan lapangan Town Hall. Ceritanya disini ya.

Setelah makan malam, suami saya berinisiatif memulai membereskan lemari. Lalu, kemanakah baju itu diletakkan?? Kami tidak ada lemari cadangan, sehingga diputuskan semua baju dimasukkan ke kontainer plastik. Masalahnya kontainer kami tidak ada yang kosong, sehingga suami saya meringkas barang agar yang tadinya barang ada di dua kontainer, diringkas menjadi satu kontainer.

Nah, pada proses meringkas ini, Azka ikut "nimbrung" dan menemukan peralatan makan yang sudah lama sekali saya simpan.

"Ini apa Mami?"
"Itu alat makan"
"Punya siapa?"
"Punya Azka, dulu waktu Azka lahir dapet kado banyak banget. Itu dari temen Mami, kalau yang itu dari temen Papi"

Kemudian, Azka merasa baha barang tersebut adalah penuh hak miliknya. Sementara saya sedang sibuk merapikan baju, saya melihat Azka bolak-balik, tetapi tidak tahu dari mana dan kemana arahnya. Saya mengecek Azka berkali-kali dan mengepel air yang ada di ruang tamu. Beberapa kali saya ngecek, kok air ada di lanta padahal saya pun juga sudah mengepelnya bolak-balik. Ternyata, Azka bolak-balik tadi adalah dari ruang tamu ke arah dispenser dan kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa gelas berisi air. Pantes saja, air berceceran dimana-mana.

Rupanya Azka sedang berimajinasi masak-masakan atau mebuat minum atau sebangsa itu lah. Azka sudah sejak lama mengincar untu bermain kompor yang sudah saya larang juga dengan keras. Mungkin permainan ini adalah salah satu pelampiasannya.

Saya seorang ibu yang tidak terlalu menggolongkan mainan terlalu ketat. Maksudnya, Azka saya bebaskan untuk bermain masak-masakan sesukanya. Pun juga saya biarkan bermain boneka beruang kesayangannya. Walaupun Azka memang jauh lebih suka dengan mainan berbau mobil-mobilan atau kendaraan konstruksi.





Pertimbangan saya tentang membiarkan Azka bermain permainan tersebut antara lain:
1. Permainan yang menurut banyak orang diasumsikan "mainan perempuan" biasanya justru melatih motorik halus anak-anak contohnya masak-masakan, mainan jepit rambut, memakaikan boneka baju, dll. Sementara yang diasumsikan "mainan laki-laki" biasanya melatih motorik kasarnya, contohnya sepak bola dan permainan olah raga lainnya.
Tujuan saya, melatih motorik halusnya agar memudahkan juga ketika nanti belajar menulis dan berkegiatan yang membutuhkan keterampilan motorik halus.

2. Menurut saya, permainan tidak memiliki jenis kelamin. Asumsi yang membuatnya berkelamin. Buktinya banyak chef laki-laki, pun penjahit laki-laki. Saya pun membiarkannya masak-masakan dan bermain boneka

3. Melatih empati dari berbagai sudut pandang. Maksudnya disni, mainan yang sekali lagi diasumsikan sebagai "mainan perempuan" biasanya justru yang kita lihat sehari-hari di rumah. Sementara yang diasumsikan "mainan laki-laki" justru jarang menjadi kegiatan yang dilakukan rutin dengan frekuensi yang besar. Maksudnya, umumnya kita akan lebih sering makan ketimbang bermain sepak bola. Dan harusya lebih sering membersihkan rumah daripada membenahi motor (untuk yang pekerjaannya bukan montir ya).
Tujuan saya, supaya Azka tahu bahwa dia pun harus bisa masak dan menjadi orang yang penyayang. Boneka beruang aja disayang, apalagi istrinya nanti. Lagipula, istri mana yang tidak suka dimasakin suaminya?? 😝

Namun, bukan tanpa batasan-batasan yang jelas. Secara garis besar, saya membatasi permainannya dalam hal:
1. Saya tetap mengingatkannya bahwa dia berkelamin laki-laki dan dia sudah mengetahuinya.
2. Saya tidak provide peralatan khusus masak-masakan karena belum tentu juga minatnya disini, kemungkinan karena sering melihat saya masak dan menurutnya tampak mengasyikan. Dia memasak menggunakan alat yang saat itu diasumsikannya sebagai peralatan masak.
3. Boneka yang dia punya hanya dua yaitu boneka beruang kesayangannya yang saya dapat dari kado wisuda dan boneka lebah hasil tantenya "mancing boneka" di Transmart Jogja. Saya tentu tidak memberikannya boneka Barbie atau boneka yang menunjukkan jenis kelamin perempuan.

Kami berusaha mengasuh Azka dengan memberi pengetahuan bahwa di laki-laki seperti Papi dan tidak bisa melahirkan seperti Mami. Sehingga bermain masak-masakan dan boneka pun tetap menjadikannya laki-laki yang suka main mobil-mobilan. In sya Allah.





Salam Hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Azka Mencoba Permainan 90-an

Halo Teman-Teman,

Kali ini saya ingin mendokumentasikan kegiatan Sabtu sore saya bersama Azka. Sore hari, cuaca sudah mulai cerah, saya mengajak Azka ke Lapangan Town Hall. Lapangan yang setau saya terbesar di kelurahan kami.

Sesampainya disana, ternyata sedang ada acara yang diselenggarakan Pemuda Pancasila. Katanya, akan ada pertemuan para anggota Pemuda Pancasila di lapangan itu, sehingga lapangan penuh dengan tenda-tenda. Maka, kami pun ke pasar yang ada di seberangnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimainkan. Ketemulah permainan gelembung anak era 90-an, hehe.

Anak 90-an angkat tangannya! Masih ingat kan produk kece satu ini?

Duduk di rumput sembari melihat pertandingan bola, kami meniup balon-balon ini dan ternyata Azka bisa meniupnya sendiri. Mainan murah meriah. Tiga buah seharga Rp 1.000 saja. Saya membelinya langsung 1 pak dengan isi 32 pcs seharga Rp 9.000.

Pegangnya gelembung tapi lihatnya bola

Ttt-iii-uuu-ppp




Salam Hangat,


Astri
(Bukan pakar parenting)

Thursday, September 14, 2017

Azka Si Anak Hobi Berjualan Es Krim

Halo Teman-teman,

Ini artikel kedua dari kegiatan kemarin, untuk kegiatan lainnya bisa dilihat disini dan disini ya.

Selain bermain balon air berwarna, kemarin saya juga mengajak Azka untuk membuat es krim. Bukan es krim rumit ala ala ibu rajin nan cerdas yang bertebaran di sosial media, hehehe. Kami hanya membuat es krim stroberi dengan bahan dasar bubuk es krim instan. Jika bermain peran, Azka suka sekali memainkan peran sebagai penjual es krim keliling dan bertiak "Es krim es krim, siapa mau beli?" sembari memukulkan tongkat atau apapun ke sepedanya, supaya terlihat sebagai "bel".

Kami bersama menyiapkan air yang diberi, menimbang bubuk es krim, menuang bubuk es krim dan air es ke baskom mixer, lalu mengaduknya bersama menggunakan mixer selama kurang lebih delapan menit. Azka mengikuti semua tahapannya, hingga memasukkan hasil mixing ke dalam kotak dan menyerahkan ke saya untuk dimasukkan ke dalam freezer.
Campur air es dan bubuk es krim



Mixing
Icip-icip

Tidak sampai disitu, dia pun mengumpulkan semua peralatannya, dan ditaruh ke dalam bak cuci. Saya tinggal mencucinya dan membersihkan lantai. Namun, sebelum dimasukkan ke bak cuci, adonan yang menempel di pengaduk dan sohlet dibersihkan dulu sama Azka. Bukan menggunakan tisu, tapi dia makan sampai bersih, haha. Sama dengan artikel sebelumnya. Azka mau ikut bebersih kegiatan kemarin karena sebelum memulai kami membuat kesepakatan untuk membersihkan semuanya bersama.

Aslinya, es krim ini direncanakan untuk dibuat sebagai pelengkap milk shake yang akan dibuat keesokan harinya. Kami juga berencana membuat pizza untuk makan malam. Namun, suami saya tiba-tiba meminta untuk membatalkan membuatnya karena sedang tidak selera makan pizza katanya. Akhirnya es krim pun disantap bersama justru malah saat sarapan. Semua pun gembira :)





Salam Hangat,


Astri

Azka dan Balon Air Buatan Sendiri

Halo Teman-teman,

Kali ini saya ingin mendokumentasikan kegiatan Azka kemarin. Cukup padat hari kami karena selain pekerjaan domestik rutin seperti biasanya, Azka juga melewatkan tidur siangnya. Jadilah kami bermain-main. Seperti biasanya, permainan kami selalu spontan dan jauh dari printilan yang membutuhkan banyak tenaga.

Sembari saya menyiapkan makan siang dan racik-racik persiapan makan malam, saya dan Azka bermain air warna. Ide ini terinspirasi dari serial kartun Diva yang pernah kami lihat bersama. Sederhana saja bahanya. Cukup menyiapkan plastik bening, pewarna makanan seadanya di rumah, baskom, water jug, dan pipet tetes. Cara mainnya, plastik bening dibuka dan digulung, kemudian dituang air ke dalamnya, dan ditambahkan pewarna. Penambahan warna ini dilakukan menggunakan pipet tetes. Untuk membuka dan menggulung plastik bening saya yang melakukannya, sedangkan selain itu Azka bekerja mandiri. Maklum, saya kan nyambi-nyambi masak, hehe. Berhubung stok pewarna makanan kami tidak banyak, maka saya meminta Azka untuk mencampur dua warna, sehingga muncul warna lainnya.

Siap-siap menaruh air



Pakai water jug yang terbuat dari plastik ya
Beri pewarna makanan (bisa campur-campur sesuka hati)
"Balon" air warna-warni
Sebenarnya, sudah jauh hari Azka mengerti berbagai ragam warna. Seperti warna dasar merah, kuning, hijau, biru dan juga warna lain yaitu ungu, pink, abu-abu, hitam, coklat, bahkan mint. Intinya semua sudah dimengerti, tugas saya untuk membuat Azka lebih konsisten menyebutnya dalam bahasa Inggris. Seidkit bercerita, awalnya kami mengajari Azka warna merah, kuning, dan hijau. Alasannya, karena mudah ditemui disetiap persimpangan jalan. Memang awalnya selalu salah, terkadang jika tidak tahu harus menjawab apa, maka selalu diakhirinya dengan jawaban "warna coklat". Hanya saja, cerita bagaimana tiba-tiba Azka bisa tahu semua warna, saya lupa. Seingat saya, hanya dia sering melihat video di Youtube tentang pengenalan warna dalam bahasa Inggris, kemudian rajin ditanya-tanya. Setelah itu otomatis bisa.

Kembali ke acara permainan hari kemarin. Setelah air dan pewarna tercampur, kemudian saya mengikatnya menjadi seolah-olah balon. Lalu, anehnya Azka meminta untuk mengikatkannya di tiang gorden. Mungkin terinspirasi dari serial kartun Diva yang juga mengikatnya di ranting pohon.

Minta digantung di tiang gorden
Hal terpenting dari semua ini adalah tidak hanya permainan sederhana yang bisa melatih motorik dan membangkitkan minat bercerita anak. Melainkan juga saya berusaha mengajarkan kedisiplinan. Sebelum kami bermain, saya memberi pengertian jika permainan ini akan membuat rumah kotor. Sehingga, kami membuat kesepakatan untuk membersihkannya bersama-sama. Dan Alhamdulillah Azka menepatinya. Dia mencuci baskom penuh warna di kamar mandi tanpa mau dibantu. Setelah itu, bagian saya yang membersihkan lantai, dan menaruh pewarna makanan kembali ke tempatnya.

Anak-anak akan selalu menyenangi seluruh kegiatan yang kita siapkan, sejauh kita juga senang menyiapkannya. Jika sedang tidak bisa membuat sendiri, namun mampu untuk membeli. Maka, belilah secukupnya dan bermainlah dengan rasa gembira. Begitu pula jika tidak ingin membeli karena memiliki waktu luang. Bangun lah rasa gembira. Ibu yang gembira akan membuat keluarganya bahagia. Apakah saya selalu bahagia?? Tidak, seperti jalanan ke pegunungan, naik-turun dan kadang menyesali dengan apa yang pernah saya perbuat. Semoga Allah mempermudah jalan kita ya :)

Kegiatan lain di hari kemarin bisa lihat disini dan disini.





Salam Hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)

Wednesday, September 13, 2017

Sangatta Part 2: Mau pindah kesini?? Baca ini dulu!

Halo Teman-teman,

Pada artikel sebelumnya, saya sudah membahas pendahuluan tentang kota Sangatta. Bagaimana menuju ke Sangatta? Bagaimana tempat tinggal di Sangatta? Bagaimana kalau ingin belanja? Apakah ada tempat hiburan keluarga? Bagaimana dengan fasilitas kesehatan di Sangatta? Kalau belum membaca, silahkan klik disini ya.

Langsung saja, untuk informasi lain yang saya rasa cukup penting diketahui sebelum menjejakkan kaki di Sangatta.

5. Pusat pencarian informasi
Maksud dari judul poin di atas bukan lah kantor pemerintah daerah atau semacam call center yang bisa dihubungi 24 jam ya. Melainkan, warga disini biaa mencari informasi dari grup jual beli yang ada di Facebook. Iya, grup jual beli tetapi dalam prakteknya banyak juga informasi yang ditulis disana. Nama grup nya Forum Jual Beli Sangatta Kutai Timur (FJBS). Ada baiknya, sebelum pindah kesini, bisa add grup ini dulu.
Di grup FB yang ketika saya tulis artikel ini, anggotanya telah mencapai 135.000 akun Facebook. Disini seperti namanya, anggota grup bisa memposting dagangannya, pun kita bisa juga posting apabila ingin mencari barang. Namun tidak hanya itu, di grup ini sering juga diposting info lowongan kerja berbagai macam profesi. Baik kerja untuk perorangan seperti ART atau supir, ada pula pegawai untuk berbagai macam tempat usaha, sampai lowongan untuk kerja di perusahaan tambang (umumnya kontraktor tambang). Grup ini juga sering memposting info terjadinya kecelakaan, jalanan yang rusak karena hujan, info orang hilang, dan sangat sering sekali diposting tentang keberadaan buaya yang muncul ke area pemukiman warga. Iya, disini masih banyak buaya dan orang menyebutnya dengan Monster Sangatta. Pernah pula saya membaca postingan di grup ini, kalau ada kerabatnya yang hilang saat main di sungai, kemungkinan dimakan buaya. Barusan juga ada postingan, seorang ibu yang digigit buaya hingga terluka karena ke sungai (atau rawa-rawa, saya kurang jelas infonya) saat subuh dan langit masih gelap gulita.

Nah bagi Anda yang ingin mencari info rumah dikontrakkan, carilah di grup ini. Jangan di olx, karena bakal susah ketemunya, hehehe.

6. No gojek, no Grab, no Uber, no worry. Just call Jakuza!!
Saya menebak Jakuza ini adalah singkatan dari Jasa angKUT ZAngatta. Tujuannya pun sama seperti gojek, grab, dan uber yaitu mempermudah masyarakat yang tidak bisa kemana-mana atau hanya sekedar malas untuk kemana-mana. Jakuza ini menerima order baik mengambilkan paket, mengirim paket, mengantar makanan, minta diambilkan makanan, atau ojek. Biasanya kurir Jakuza aktif di grup FJBS dan sering membagikan nomor yang dapat dihubungi.
Perbedaan Jakuza dengan ojek online yang populer itu adalah:
- Untuk menghubungi kurir masih menggunakan telpon dan SMS. Sangat sering terjadi sudah kontak Jakuza langganan, namun yang bersangkutan sedang tidak bekerja. Atau sudah mengontak lama, tidak kunjung ada balasan.
- Order kita tidak bersifat eksklusif, artinya para kurir Jakuza ini sekali angkut bisa bawa banyak barang. Artinya, pengantaran pun tidak bisa cepat karena dilakukan sesuai urutan jarak dimana kurir tersebut berada.
- Tidak 24 jam, setau saya rata-rata kurir ini sudah tidak beroperasi lebih dari jam 22.000 WITA.

7. Pelayanan umum
Pelayanan umum yang pernah saya kunjungi adalah kantor desa Swarga Bara, SAMSAT, dan kantor imigrasi. Untuk kantor desa Swarga Bara, kami beberapa kali minta surat domisili untuk kepentingan administrasi. Pelayanannya?? Terbilang bagus dan cepat. Meskipun banyak pegawai yang membawa anak, saya tidak pernah menunggu lebih dari 15 menit untuk selembar surat keterangan domisili. Justru di Jogja saya sering bolak-balik atau menunggu lama untuk kepengurusan semacam ini. Sementara ke SAMSAT karena berniat balik nama kendaraan kami. SAMSAT di kota kecil tentulah pengunjungnya tidak membludak dan yang jelas tidak ada calo. Pelayanannya?? Cepat dan sangat membantu, bayarnya pun sesuai yang tertera tanpa ada tambahan apapun. Sementara, kantor imigrasi disini tergolong baru karena kalau tidak salah baru ada akhir 2016. Dibukanya kantor imigrasi Cabang Samarinda di Sangatta sepertinya untuk memudahkan warga Sangatta dan sekitarnya untuk mengurus paspor, tanpa harus ke Samarinda. Disini, Azka dan suami membuat paspor baru, sedangkan saya hanya memperpanjang. Pelayanannya?? Wah sangat sangat sangat membantu dan prosesnya cepat. Proses cepat ini didukung juga karena antrean tidak mengular. Tempatnya sepi, bersih, dan ramah anak karena disediakan mini indoor playground, sehingga anak tidak bosan. Beda waktu di Jogja dulu, untuk ke imigrasi harus datang pagi-pagi agar dapat nomor antrean kecil. Sudah datang setelah sholat subuh saja masih dapat nomor antrean besar, hahaha.

Tidak menyangka kan, kota sekecil ini pelayanan umumnya di atas rata-rata. Semoga selalu seperti ini.

8. Kuliner
Sebenarnya saya sedang proses menyusun artikel khusus kuliner di Sangatta. Nantinya, in sya Allah saya akan membahas masing-masing tempat makan yang pernah kami kunjungi. Namun, pada artikel ini saya akan mengulasnya secara umum.
Kuliner di Sangatta memang tidak ada yang terlalu khas, seperti gudeg dan bakpia di Jogja. Tetapi jangan salah, variasi makanan disini cukup banyak lho. Rata-rata penjualnya ya orang Sangatta sendiri. Baik yang telah mempunyai kedai, ataupun usaha rumahan yang menggunakan jasa Jakuza untuk delivery.
Untuk gerai besarnya, disini ada KFC. Sepengamatan saya harganya sedikit lebih mahal dari di Pulau Jawa. Pun terkadang paket Chaki sering hilang karena sering sekali kehabisan stok mainan, hehehe. Tempatnya tidak terlalu besar, tetapi ada mainan anak ciri khas KFC. Ada juga Mocco Factory, semacam cafe donat dan frappe yang mirip-mirip dengan J.co lah. Rasa dan variannya dibawah J.co tetapi menurut saya lumayan enak. Ada lagi Suki Ya, semcam tempat makan suki seperti X.O suki, tetapi dengan varian yang jauh lebih sedikit ya, hehehe. Entah kenapa kalau makan di Suki Ya ini, bertiga habisnya tidak pernah kurang dari Rp 260.000. Baik KFC, Mocco Factory, maupun Suki Ya letaknya ada di lantai 1 Sangatta Town Center (STC). Oh iya, di lantai 1 STC ini juga ada kedai burger gitu, tetapi saya belum pernah kesana. Awal kami disini, juga ada Bakso Lapangan Tembak, tetapi sepertinya sepi peminat, jadi ditutup dan digantikan tempat hiburan Fun Station.
Sementara, untuk varian makanan lainnya masih banyak. Mulai dari jajanan anak seperti pentol rebus, pentol goreng, pentol tahu bakar, tempura, dan sebangsanya. Juga ada nasi kuning Banjar, aneka maknanan Jawa Timuran, dan banyak tersedia makanan khas Makassar seperti coto makassar dan teman-temannya atau kapurung khas Palopo. Untuk steak juga ada yang kaki lima, hingga steak kualitas premium dengan harga kisaran Rp 150.000 ke atas. Banyak juga yang menjual pizza, salah satunya dekat rumah kami. Makanan jepang seperti sushi dan ramen pun tidak sulit mencarinya. martabak telor dan terang bulan, bertebaran saat malam hari.
Favorit kami salah satunya adalah tempat makan yang menyediakan pemancingan. Azka jarang sekali betah di Mall, tetapi kalau mancing, hujan angin deras pun tidak mau minggir, hehe.

Intinya, janagan kuatir masalah makanan. Malas pergi pun rata-rata penjual makanan disini menyediakan sistem delivery (mereka sudah punya langganan Jakuza). Satu pesan saya, turunkan ekspektasi rasa Anda. Umumnya kalau di Pulau Jawa, jika mencoba satu makanan dan rasanya mengecewakan, bisa mencari tempat lain. Disini, penjualnya tidak sebanyak Jawa, jadi jika ingin donat sekelas J.co dan tidak menurunkan standar rasanya ya siap-siap saja kecewa.

9. Olah raga dan komunitas
Saya belum pernah terjun langsung ke dunia ini, tetapi sudah mulai mengamati siapa tau bisa buat bekal Azka kelak. Olah raga disini menurut saya cukup lengkap. Ada klub bola, renang, tenis, basket, voli, baseball, kriket, bulu tangkis, sepatu roda, panjat tebing, bahkan juga memanah. Banyak kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan di pusat olah raga di Town Hall. Kotanya kecil, tetapi sarana olah raga dan klub yang mendukungnya tidak bisa dianggap remeh. 


Sekiranya delapan poin ini sudah cukup menggambarkan bagaimana jika akan pindah ke Sangatta. Semua akan baik-baik saja jika kita bersedia mnurunkan sedikit standar dari kehidupan di Jawa. Walaupun menurunkan standar bukan berarti harus menurunkan ekspektasi harga ya. Disini jarang yang murah, minimal harga seperti Jakarta, hehehe. Banyak yang hijrah kesini ikut dengan suaminya, namun di tengah jalan minta pulang ke Jawa. Kalau sepengetahuan saya, memang di rantau yang tidak ada saudara, kita dibutuhkan mental yang tangguh dan siap kesepian dalam jangka waktu yang tidak diketahui. Kalau ada teman dan saudara kan bisa kumpul kapan saja. Kalau di rantau yang tidak ada kenalan, siap-siap saja jika sudah punya anak namun masih balita, setahun pertama akan banyak dihabiskan di rumah. Apalagi suami seharian bekerja. Tidak ada kenalan, tidak ada tempat hiburan, tidak ada solusi lain selain rumah. Bagi yang tidak bisa mendapat solusi dari rasa bosa tadi, biasanya menyerah dan kembali ke Jawa, sedangkan suaminya kembali masuk mess. Saya kira ini juga bisa menjadi bahan pertimbangan, karena biaya untuk pindahan tidak lah sedikit. Jika baru sebentar, kemudian bosan, dan meminta kembali ke Jawa menurut saya sangat sayang biayanya.




Salam hangat,

Astri

Tuesday, September 12, 2017

Azka Menjadi Manager Laundry

Halo Teman-teman,

Sedikit pendokumentasian kegiatan kami kemarin di rumah. Di artikel-artikel saya lainnya, terlihat bahwa kegiatan kami cenderung tidak terstruktur dan tidak terencana. Kali ini, entah kenapa saya terpikir tentang kegiatan laundry setelah melihat jepitan jemuran baju di depan saya. Langsung saya ambil alat tulis, gambar berbagai jenis pakaian dengan kertas karton sisa, diwarnai seadanya, dan gunting deh. Lalu, saya ikat tali di antara kaki-kaki meja seolah-olah sebagai tiang jemuran.

Azka dengan senang hati menjemur pakaian jadi-jadian yang saya buat. Hitung-hitung belajar membuka jepitan jemuran bisa mengasah keterampilan jari-jemarinya. Ditambah lagi ini melibatkan dua benda yaitu jepit jemuran dan pakaian yang akan dijemur. FYI, jepit jemuran yang kami miliki adalah jepit jemuran dengan harga dan kualitas terendah jadi agak berat.

Setelah malam hari, kok saya kepikiran kalau menjemur baju saja rasanya kurang. Kemudian saya tawarkan kepadanya, "Mau dibuatkan mesin cucinya nggak?". Jawabannya "Mauuuuu". Lalu saya ambil kardus bekas air mineral, saya buat pola seadanya, dilubangi bagian tengahnya dan diberi plastik sampul ceritanya kaca. Setrika pun saya buat dengan bahan yang sama.

Hasilnya?? Di betah loh. Malah tanpa sepengetahuan saya dia mengambil kemasan tisu basah digunakan sebagai meja setrika.

Masukkan baju ke dalam mesin cuci


Jemur-jemur baju
Baju yang sudah dijemur
Lanjut setrika deh

Penampakan setrika mini, hehe


Hikmah yang bisa diambil??

Azka sering sekali nimbrung kalau saya mencuci baju. Akhirnya dia pencat-pencet tombol semaunya dan saya deg-degan kalau sampai rusak pasti repot, hehehe. Dengan mainan ini, dia merasa melakukan tugas laundry secara mandiri. Selain itu, dia menjadi mengerti bahwa proses baju yang dia pakai di dalamnya ada proses mencuci, menjemur, dan setrika. Bukan didapat dari Kinder Joy, yang dibeli terus bisa dipakai, setelah itu dibuang.




Salam hangat,


Astri


Sangatta Part 1: Mau pindah kesini?? Baca ini dulu!

Halo Teman-teman,

Kali ini saya akan berbagi sedikit cerita tentang kota domisili saya saat ini yaitu Sangatta. Sebagai tambahan info, saya sendiri adalah orang yang sering berpindah-pindah sejak kecil. Baik pindah ke kota yang berbeda, maupun pindah rumah dalam kota yang sama. Rumah yang kami tinggali di Sangatta ini, adalah rumah ke-13. Saya lahir di Bandung, kemudian pindah ke Purwokerto, Solo, besar dan tumbuh di Jogja, sempat juga bekerja di Dumai, sampai akhirnya ikut suami ke Sangatta.

Sangatta yang saya tinggali adalah kecamatan Sangatta utara (selanjutnya disebut Sangatta saja), sehingga penulisan selanjutnya adalah dikhususkan untuk Sangatta Utara ya. Artikel ini akan saya up date bertahap guna menambah foto sebagai pelengkap.

Sangatta dalah sebuah kecamatan yang juga merupakan ibu kota dari kabupaten Kutai Timur, masuk di provinsi Kalimantan Timur. Bagian utara berbatasan dengan kecamatan Bengalon, bagian timur berbatasan dengan Selat Makassar, bagian selatan berbatasan dengan kecamatan Sangatta Selatan, dan bagian barat berbatasan dengan kecamatan Rantau Pulung dan kecamatan Sangatta Selatan. Pada tahun 2016, jumlah penduduknya berjumlah 90.981 jiwa. Lebih lengkap dapat dilihat disini.

Saat suami dimutasi ke Sangatta dan kami merencanakan untuk pindah, sedikit sekali informasi tentang kecamatan satu ini. Saya pun pergi tanpa mendapat gambaran yang jelas. Walaupun  saya sudah pernah mendengar kata "Sangatta" dari teman semasa kuliah. Keadaannya waktu itu saya dan suami masih LDR karena penempatan sebelumnya ada di Pulau Sebuku, daerah dimana tidak memungkinkan untuk membawa keluarga. Entah mengapa saat saya diceritakan bahwa teman saya tinggal di Sangatta, saya merasa akan tinggal disana suatu saat. Ternyata nyata terjadi.

Untuk ke Sangatta, kita harus menempuh perjalanan darat delapan jam dari Bandara Sepinggan Balikpapan. Sementara, butuh waktu sekitar lima jam dari Samarinda dan kurang dari dua jam dari Bontang. Jalannya jangan dibayangkan mulus kayak tol ya, hehe. Dari Balikpapan ke Samarinda, jalannya aman terkendali walaupun sedikit naik turun. Nah, dari Samarinda ke Bontang lalu dari Bontang ke Sangatta, siap saja kepala terguncang terus-menerus karena selain jalan yang naik turun dan berbelok, kondisi jalannya banyak yang rusak parah. Bahkan pernah ditutup kalau hujan deras dan dibuka lagi keesokan harinya dengan sistem buka-tutup jalan.

Sebenarnya, pertama kali menginjakkan kaki ke Sangatta, kami menggunakan jalur udara dari Balikpapan. Menggunakan pesawat jenis Twin Otter milik Air Born. Pesawat dengan dua baling-baling dan saat itu penumpangnya hanya tujuh orang dengan awak pesawat tiga orang. Waktu tempuh perjalannannya kurang lebih 50 menit. Namun, sudah setahun ini pesawat tersebut tidak beroperasi untuk umum. Pesawat hanya dioperasikan untuk keperluan karyawan PT. Kaltim Prima Coal (KPC), salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia yang sudah melakukan aktivitasnya di Sangatta semenjak 1991. Semoga saja segera beroperasi kembali dan memudahkan warga disini.

Pertama kali mendarat di Sangatta menggunakan pesawat jenis Twin Otter milik Air Born di bandara Tanjung Bara, Sangatta
Biasanya, bagi yang ingin berkunjung atau ternyata ikut dengan suami pindah ke sini, ada beberapa info yang dicari. Saya akan menuliskannya satu per satu berdasarkan pengalaman saya:

1. Tempat tinggal
Pertama kali yang menjadi concern kami pastilah tempat tinggal apalagi saya punya anak balita. Sebelum saya dan Azka pindah, suami lebih dulu bekerja dua bulan di Sangatta. Namun, berhubung tinggal di mess dengan jam kerja yang cukup panjang, mencari rumah ini hanya dilakukan sekali sepekan ketika mendapat jatah off. Di sini, rumah banyak sekali ditawarkan untuk disewa. Mulai dari kos, rumah barakan, maupun rumah tunggal. Rumah disini ada yang terbuat dari kayu dan ada pula yang dari batu.
Kos disini juga sama dengan kos di kota lain di Pulau Jawa. Ada yang kamar mandi dalam dan luar, tergantung harga. Rumah barakan yang dimaksud adalah seperti kos, yaitu antara barakan satu dengan lainnya bersebelahan. Hanya saja biasanya barakan dilengkapi dengan minimal satu kamar tidur, satu kamar mandi, dapur, dan keperluan rumah tangga lainnya. Ada juga barakan dengan jumlah kamar lebih dari satu. Untuk air yang saya tahu, ada yang iuran dengan penghuni barakan lainnya dan ada pula yang sudah termasuk harga sewa. Begitu pula dengan listrik, ada yang iuran, ada yang sudah termasuk harga sewa, dan ada pula yang dilengkapi dengan meteran listrik sendiri. Ada pula rumah yang jadi satu dengan rumah induk. Bukan rumah barakan, tetapi lokasinya jadi satu dengan rumah pemilik kontrakan. Bisa di lantai atas, bersebelahan, atau di belakang rumah tetapi beda atap. Rumah tunggal yang dimaksud adalah rumah yang berdiri sendiri dan terkadang memiliki halaman dan garasi sendiri.
Apa yang perlu dipertimbangkan?
Kalau pertimbangan kami yang pertama adalah pasokan air. Di Sangatta, air bisa diperoleh dari PDAM atau jatah karyawan KPC. Bagi perumahan karyawan KPC, seperti G-house, Lembah, Panorama, Bumi etam, dan Bukit Batu Bara setau saya pasokan air dari KPC. Maksudnya, setiap rumah karyawan, mendapat jatah air dari KPC. Jika lebih dari jatah tersebut, maka akan muncul tagihan air. Selain perumahan itu, saya kurang tahu ada perumahan karyawan KPC atau tidak. Saya sih pernah dengar di daerah Dayung, hanya saja saya tidak tahu pasokan airnya dari KPC atau PDAM. Begitu pula di perumahan bernama Swarga Bara Extention yang letaknya tidak jauh dari perumahan karyawan KPC, saya kurang tahu pasokan airnya dari mana. Kualitas air di perumahan karyawan KPC tergolong bagus (jernih) dan hampir tidak pernah berhenti, kecuali ada perbaikan yang sangat jarang. Apabila terjadi perbaikan pun hanya sebentar saja (hitungan jam sudah selesai).
Berdasarkan pengalaman tetangga yang pernah tinggal di luar perumahan karyawan KPC, air didapat dari PDAM. Kualitasnya tidak jernih dan sering ada pemberhentian dari PDAM dengan alasan perbaikan. Tidak hanya sebentar, kadang pemberhentian pasokan air ini bisa berhari-hari. Pasokan air sehari-hari pun tidak sederas di perumahan karyawan KPC. Jika kekurangan air, maka bisa membeli air tandon yang banyak dijual disini. Menurut tetangga saya tadi, ketika beli air tandon pun, tidak bisa langsung dipakai. Harus didiamkan sejenak agar kotorannya mengendap.
Mungkin berdasarkan hal tersebut, rumah di karyawan KPC ini relatif lebih mahal dibanding dengan daerah lain. Masa sewanya pun rata-rata minimal enam bulan. Beda dengan daerah yang di luar, ada yang bisa disewa bulanan.

2. Tempat berbelanja
Perlu diketahui bahwa Sangatta hanya kecamatan, jadi jangan bayangkan seperti Balikpapan apalagi Jakarta. Disini tidak tersedia supermarket yang menjual sayur sejenis Superindo, Hypermart, Carrefour. Jika ingin berbelanja bahan segar, ada beberapa alternatif. Yang saya ketahui antara lain:
- Pasar
Disini ada banyak pasar, setau saya yang terbesar di Pasar Induk. Pasar ini selain menjual bahan segar seperti sayur, ikan, ayam, daging, dan buah juga menjual baju dan mainan anak. Setau saya, pasar ini juga jadi pusat kulakan penjual sayur eceran. Pasar lain adalah Pasar Teluk Lingga dan Pasar Town Hall. Seperti namanya, pasar Teluk Lingga ada di daerah Teluk Lingga. Berada di ruas Jalan Yos Sudarso III (kalau tidak salah), saya jarang ke pasar ini, kalau pun kesini saya hanya untuk membeli tepung sagu aren karena tidak saya temukan di tempat lain. Sementara, yang paling dekat dari tempat tinggal kami adalah pasar Town Hall, jika tinggal di perumahan karyawan KPC dan tidak memiliki kendaraan, ke pasar ini bisa mengendarai Bentor dengan tarif PP umumnya RP 20.000. Biasanya setiap pelanggan bentor seperti saya, sudah punya kontak bentor langganan masing-masing apabila sewaktu-waktu minta dijemput. Tidak hanya ke pasar, bentor memiliki area pengantaran ke dan dari seluruh daerah perumahan karyawan KPC, Munthe, dan Kabo Jaya. Ada lagi pasar Sangatta Sebrang. Lokasi Sangatta Sebrang terpisah dari Sangatta Utara walaupun hanya terpisah sungai sejauh sekitar 10-20 m saja. Untuk menuju kesana, kita harus terlebih dulu ke daerah Sangatta Lama. Disana kita bisa memarkir mobil, kemudian menyebrang menggunakan kapal ponton, sejenis rakit bermesin, dengan tarif Rp 2.000 sekali jalan. Jika menggunakan motor, ada kapal ponton yang menyewakan jasa penyebrangan untuk warga yang mengendarai motor. Barang di pasar ini menurut saya paling segar dibanding pasar lain, hanya saja jaraknya yang cukup jauh dari rumah saya. Oh iya, ada juga pasar Sangatta lama, namun saya belum pernah berbelanja bahan segar disini. Saya pernah sekali kesini untuk membeli mainan anak.
Harganya??
Kalau dari pengalaman saya, pasar Town hall yang termahal dan Pasar Sangatta Sebrang yang termurah. Tapi ini bukan jadi patokan, karena saya hanya membandingkan dari apa yang biasa saya beli saja.
- Warung sayur
Di beberapa daerah dan perumahan, ada warung yang menjual sayur. Berhubung di perumahan saya tidak ada, maka saya tidak dapat memberikan ulasan. Setau saya yang ada warung sayurnya di daerah Kabo jaya, G-house, dan bukit batu bara. Di luar perumahan karyawan KPC sepertinya akan lebih sering ditemui.
- Tukang sayur keliling
Orang sini menyebut penjual sayur keliling dengan sebutan "Paklek". Sebenarnya panggilan ini tidak hanya untuk tukang sayur, tetapi juga penjual jajanan-jajanan pinggir jalan. Paklek sayur menjual sayur biasanya dalam bentuk bungkusan kecil, seperti cabe kriting dibungkus kecil isi 5-10 buah. Ada juga Paklek sayur yang membawa ikan segar.

Sementara, untuk belanja kebutuhan bulanan, disini sudah banyak bertebaran Alfamart, Indomaret, dan Alfamidi. Pun banyak swalayan lokal yang tidak besar sih, tapi cukup untuk membeli kebutuhan dasar bulanan seperti sabun dan shampoo. Namanya Bandi Raya, Eramart (ada dua cabang), Ovalmart (dua cabang juga). Tapi, Anda harus siap bahwa pasokan barang disini tidak secepat di Pulau Jawa. Bisa jadi, bulan ini menemukan Lifebuoy, lalu bulan berikutnya stok kosong dimana-mana. Begitu pula dengan diapers.

3. Tempat hiburan
Sayangnya Sangatta bukan lah kota yang diperuntukkan untuk keluarga seperti Jogja. Disini minim sekali hiburan untuk keluarga. Jika Anda adalah pecinta Mall dan memiliki slogan "Tidak bisa hidup tanpa Mall", maka Anda siap tidak hidup disini, hehehe. Saya juga bingung mau menuliskan apa sebagai tempat hiburan. Yang jelas, untungnya saya dan suami bukan penggemar Mall. Kami malah bingung ke Mall mau ngapain, paling mentok nonton (dan itu jarang) atau yang lebih sering ke Ace Hardware. Makan di Mall pun jarang kalau tidak terpaksa. Anak kami Azka, sepertinya ketularan orang tuanya. Dia selalu mengeluh kalau diajak ke Mall. Bisa-bisa baru masuk langsung minta keluar. Sehingga hiburan kami disini paling mancing di tempat makan yang ada pemancingannya atau ke lapangan area Town Hall buat main bola atau sekedar berburu buah ketapang dan membedakan daun muda dan daun kering, setelah berburu kemudian hasil buruannya dibawa pulang. Itu saja dia sudah senang.
Oh iya, disini ada STC atau Sangatta Town Center. STC ini terdiri dari tiga lanai, lantai satu ada beberapa gerai makanan dan tempat mainan keluarga namanya "Fun station", belum lama dibuka jadi kami belum pernah kesana karena ya itu kurang menikmati hal-hal semacam itu. Lantai kedua kosong, cuma ada satu gerai kecil yang menjual aksesoris. Saat pertama kali kesini hampir setahun lalu, di lantai dua ini ada Timezone. Hanya saja sepertinya sepi peminat, lalu mesinnya pun perawatannya buruk jadi banyak yg error, akhirnya tutup juga. Sebelum kami disini, di lantai dua ada Matahari, namun sepertinya juga sepi peminat dan tidak bertahan lama. Bekas gerai Matahari ini, sempat ada Ramayana yang menjual baju dan sepatu, namun hanya berlangsung sekitar dua bulan saja karena berjualan disitu sepertinya hanya untuk memanfaatkan momen lebaran. Sementara, di lantai tiga adalah indoor playground untuk anak-anak. Ya ada outbond juga seperti di Mall-mall di pulau Jawa, namun dengan tampilan yang jauh di bawahnya. Ada juga kereta mini, kincir angin, dan komedi putar untuk anak-anak, dengan kondisi mainannya sepeti yang ada di pasar malam, hehe. Di STC ini ada eskalator, tapi sangat jarang dinyalakan. Paling-paling kalau libur panjang dan hanya dinyalakan untuk tangga naik dari lantai dua ke tiga. Lainnya tetap mati.
Kami juga sering membawa Azka bermain di semacam outdoor playground, yang isinya waktu itu hanya ada dua prosotan. Tetapi, di sekitarnya ada kolam ikan yang tidak terlalu besar. Saat ini, are bermain tersebut sudah diperluas oleh pemerintah daerah. Lumayan, sudah ada enam perosotan, tiga ayunan, dan satu jungkat-jungkit. Jangan salah, area bermainnya bersih lho. Biasanya kami kesini kalau hari masih pagi-pagi benar, membawa sarapan dari rumah lalu sarapan bersama di taman bermain. Kalau siang, suasananya sangat panas kalau sore akan banyak anak yang bermain. Tetapi, entah kenapa sejauh ini jika bermain di area umum, tidak pernah sekalipun ada masalah dengan anak-anak yang bermain. Mereka rata-rata mau antre dan orang tuanya pun ramai-ramai mengawasi. Semua aman terkendali. Hanya saja lokasinya lumayan jauh dari rumah kami, sekitar 15km. Letaknya di Jalan Soekarno-Hatta KM 0 atau orang sini menyebutnya dengan Bukit Pelangi, tepatnya di depan Masjid Raya Sangatta yang sangat indah.
Masjid raya Sangatta di Bukit Pelangi. Foto diambil dari seberangnya, tepatnya di dekat area outdoor playground

4. Pelayanan kesehatan
Jangan kuwatir, disini banyak Rumh Sakit dan Puskesmas (Untuk puskesms mohon maaf saya tidak memberikan gambaran ya, karena belum pernah kesana sama sekali). Mengingat banyaknya perusahaan beroperasi di Sangatta. Ditambah lagi, Sangatta merupakan ibu kota kabupaten, maka sudah tersedia RSUD Kudungga. Setau saya, dokternya lengkap dan katanya fasilitasnya cukup baik. Hanya saja lokasinya jauh dari kota. Untuk mencapai kesana, harus melewati jalan Soekarno-Hatta. FYI, jalan Soekarno-Hatta ini sudah sangaaaaaaat gelap lewat dari jam 18.30 WITA. Ada juga rumah sakit ibu dan anak, namanya RSIA Cahaya Sangatta dan RS As-syifa. Sewaktu Azka terkena ISPA, dia dirawat di RSIA CAHAYA Sangatta. Dokternya hingga kini bernama dr. Astrid M., Sp.A. Kami di kamar paviliun dan fasilitasnya lumayan lah, walaupun dispensernya bukan yang hot and cool tapi air panas disediakan di luar. Sudah ada sofa-bed nya juga, jadi bisa digunakan untuk yang menunggu. Untuk RS As-syifa saya hanya pernah melakukan Pap Smear disana, katanya disana dokter obgyn yang bagus namanya dr. Rahmat. Waktu Pap smear, bidan yang menangani ramah-ramah banget (pengalaman dapet bidan senior waktu lahiran Azka, hehehe). Ada juga rumah sakit umum, antara lain RS Meloy, RS Medika Sangatta (orang sini menyebutnya SOHC), dan RS Pupuk Kaltim Sangatta. Suami saya pernah di rawat inap di RS Meloy karena randang lambung. Katanya disini dokternya yang paling bagus, namun untuk kamar kelas VIP bahkan tidak ada tempat tidur penunggunya, yang ada hanya sofa kecil. Sehingga, saya dan Azka tidur di bed pasien, sedangkan suami saya tidur di sofa, hahaha. Kami kurang suka dengan pelayanan SOHC dan belum pernah ke RS PKT-Sangatta. Disini juga ada RS Pertamina, namun saya belum pernah kesana. Tempatnya sepi sekali dan saya lihat jarang ada yang datang.
Membayarnya??
Bagi karyawan yang di-cover kesehatannya oleh perusahaan, bisa membawa buku berobat untuk ditunjukkan setiap berobat. Bagi pasien mandiri, sebaiknya bawa cash karena RS disini hampir semua tidak ada mesin EDC.

Apotek disini juga bertebaran dimana-mana, untuk obat yang umum digunakan tidak akan sulit menemukannya di sembarang apotek.

Bagaimana mencari informasi di Sangatta? Tinggal di kota kecil bukan berarti tidak bisa wisata kuliner lho ya. Lalu, bagaimana pelayanan umum di kota tambang ini? Lanjut di bagian selanjutnya ya. Silahkan klik disini. :)



Salam Hangat,


Astri

Sunday, September 10, 2017

Azka Akhirnya Mau Gunting Tempel

Halo Teman-teman,

Sebelum tulisan ini dibuat dengan panjang dan lebar, saya ingin menginfokan bahwa tulisan di blog ini akan lebih banyak sebagai wadah dokumentasi perjalanan kami sekeluarga. Apabila ada manfaatnya, dengan senang hati silahkan diambil. Apabila sekiranya tidak bermanfaat, silahkan untuk dilewati :)

Kemarin, anak kami Azka akhirnya mau mengerjakan aktivitas gunting-tempel. Hingga saat ini sebenarnya Azka masih belum ada keinginan untuk mengerjakan aneka worksheet. Biasanya, jika disodorkan kertas dan spidol, dia lalu pergi dan justru mengambil mainannya yang lain. Dia saat ini lebih tertarik bermain menggunakan imajinasi, dibanding dengan aktivitas dengan pola yang terstrukstur.

Bukan tidak pernah mengerjakan sama sekali. Hingga saat ini, Azka sudah mau mengerjakan kegiatan yang berhubungan dengan mencari bayangan, mencari pasangan, tracing, dan seperti judul tulisan ini yaitu gunting-tempel. Untuk mencari bayangan dan pasangan, Azka sudah cukup mahir karena hampir tidak pernah salah dalam sekali menjawab. Sementara untuk tracing, dia belum terlalu suka jadi hanya mengikuti garis semaunya saja tanpa memperhatikan pola titik-titik yang ada. Ini sudah kemajuan, biasanya diberi spidol saja tidak mau.

Nah untuk gunting-tempel ini, baru kemarin dia merasa bersemangat. Jauh sebelum ini, Azka pernah saya sodori gambar muka kosong dan saya beri mata, hidung, mulut, telinga, dan rambut dalam bentuk yang terpisah. Maksudnya, supaya dia menempel bagian tubuh tersebut sesuai tempatnya di muka yang masih kosong tadi. Hasilnya?? Azka memberi lem di kertas bergambar mata, tapi bukan ditempel di muka kosong, melainkan di tempel di matanya sendiri, hahaha. Selanjutnya, dia selalu menolak dengan aktivitas ini.

Semalam, aktivitas gunting-tempel ini menggunakan gambar penyihir yang masih berwarna hitam-putih. Gambar tersebut sudah berpola hanya tidak berwarna. Maka, harus ditempel dengan aksesoris baju, topi, muka, sarung tangan, sepatu, dan sapu terbang yang sudah disediakan. Saya sebenarnya yang mengguntingnya, karena pertama pola nya yang sudah kompleks dan kedua gunting khusus untuk Azka tidak tahu kemana rimbanya. Azka tinggal memberi lem dan menaruh di tempat yang sesuai.

Hasilnya?? Untuk topi, muka, baju, lengan, dan sapu terbang sudah ditempatkan dengan benar. Hanya saja untuk sepatu masih belum benar. Bagian yang seharusnya menjadi alas sepatu justru berada di bagian samping.

Memakai lem cair yang akhirnya saya ganti dengan lem stik karena sulit mengeluarkan lemnya

Mulai mikir mau ditaruh dimana sapu terbangnya

Ini hasilnya, tanpa bantuan lho :)

Setelah selesai dengan gambar penyihir, dia terlihat senang. Sehingga saya menyiapkan worksheet gunting-tempel lainnya. Ternyata sembari saya menggunting worksheet yang baru, Azka melepas hasil gunting-tempel gambar penyihir tadi dan memberinya lem serta menempelkannya ulang. Penilaian saya, Azka sudah mulai tertarik dan bisa menerima perintah dengan gembira.

Gunting-tempel yang kedua adalah menempatkan sebuah gambar sesaui dengan bentuknya yaitu lingkaran, segitiga, dan balok. Jadi ceritanya tokoh bernama Mombi sedang berulangtahun, dia mendapat banyak kado. Namun, ada kado yang hanya berupa bayangan berbentuk berbagai macam geometri. Di bagian yang lain, sudah disediakan gambar kado dengan bentuk yang sesuai dan dapat ditempel di bagian bayangan. Hasilnya?? Sudah sesuai dengan bentuk.

Hasil menempel "kado Mombi"

Alhamdulillah, sudah ada kemajuan. Sementara konsistensinya belum dapat saya ketahui. Let's wait and see.

Berdasarkan yang saya amati, ada beberapa concern yang menyebabkan Azka mau mengerjakan worksheet, yaitu:
1. Timing yang tepat
Maksudnya adalah, saat ini usianya baru mau menjelang 2 tahun 10 bulan. Bagi banyak anak, mungkin usia tersebut sudah membuat mereka senang dan konsisten dalam mengerjakan aneka aktivitas terstruktur. Namun, hal ini tidak terjadi di Azka. Kegiatan yang dia suka lakukan berulang-ulang tanpa mengenal waktu adalah bermain imajinasi dan bercerita. Dia suka sekali mengajak orang tuanya bercerita dengan cara, "Ayok Papi/Mami, cerita-cerita di kamar pakai AC". Hal yang diceritakan ya semaunya dan seringnya kembali ke imajinasi yang sebenarnya hanya Azka dan Allah yang tau apa maksudnya. Sehingga, untuk lembar kerja ini, dia mau mengerjakan karena bolak-balik saya tawarkan (bolak-balik ditolaknya) dan saya sengaja meletakkannya di tempat yang bisa dilihat dan dijangkau Azka. Ketika rasa penasarannya muncul dan hatinya sedang gembira, maka dia mau melakukannya. Biasanya, dia mau malah setelah jam menunjukkan pukul 21.00. Bahkan terkadang, tidak mau dihentikan padahal sudah jam 22.00 lewat dan akhirnya saya bereskan paksa.
2. Butuh tantangan
Azka tipe anak yang tidak suka mengulang sesuatu yang sudah berhasil dicapainya. Mungkin dua kali saja dia mau mengulang, setelah itu dia tinggalkan. Bahkan untuk sesuatu yang bisa dikerjakannya dalam sekali mencoba, dia tidak akan mencobanya lagi. Like Mother like son sebenarnya, hehehe. Untuk mengatasinya, maka harus siap berbagai macam worksheet, baik dengan kesulitan yang sama mamupun yang berbeda. Yang terpenting, bukan worksheet dengan gambar yanga sama.

Sementara, untuk tugas yang masih harus saya kerjakan yang utama adalah memberi kalimat perintah dengan benar. Sebenarnya, untuk kegiatan seperti membersihkan rumah, memasak, dan perintah yang berhubungan dengan kegiatan rutin sehari-hari, Azka sudah mengerti dengan benar dan bisa melaksanakannya dengan benar juga. Hanya untuk masalah aktivitas terstruktur ini, terkadang sebelum saya menjelaskan perintahnya, dia sudah bosan dan memilih pergi. Maka, tugas saya yang menyingkat dan menyederhanakan perintah agar dia mengerti. Selain itu, saya rasa juga perlu memberikan perintah yang tidak menggurui. Karena ada orang bilang, "Anak itu suka belajar tapi tidak suka digurui".

Oh iya, sedikit cerita mengenai sumber saya mendapatkan worksheet. Saat ini, banyak sekali bertebaran akun di instagram yang menjual aneka aktivitas anak baik dalam satu paket ataupun berlangganan sesuai usianya. Biasanya berbentuk soft copy printable yang dikirimkan, untuk selanjutnya kita print sendiri. Berhubung printer saya eror dan Azka selalu "nimbrung" kalau saya menyalakan printer, kerjaan saya malah tidak pernah selesai. Selain itu, semenjak serumah dengan suami di Kalimantan, Azka punya jam tidur yang lebih malam, sehingga saat dia sudah tidur maka saya juga memilih untuk tidur. Saat Azka tidur siang, saya memilih mengerjakan pekerjaan rumah.

Maka saya memilih untuk berlangganan majalah anak yaitu Mombi dan Bobo junior. Saya sedari kecil suka sekali membaca Bobo, namun tidak pernah berlangganan karena tidak ada yang provide biayanya, hahaha.

Azka sudah terpapar buku sejak usia hitungan hari. Waktu itu bukunya tidak jauh dari soft book atau buku-buku kecil penuh gambar. Namun pada usianya sekitar 14 bulan, saya iseng membelikannya Bobo junior. Tidak disangka, dia sangat menyukainya dan bisa memahami perintah seperti "Mana wortel?" "Mana tangan?" "Mana gambar tas?" pada usia 18 bulan dengan menunjuk gambar sesuai perintah dengan benar. Saat itu, entah mengapa Bobo junior jarang saya temui di Jogja, bahkan sering kosong di Gramedia. Kebanyakan menjual Bobo. waktu saya belikan Bobo, ceritanya terlalu kompleks dan kurang sesuai untuk anak seusianya. Maka, saya putuskan untuk berlangganan majalah. Waktu itu yang saya pilih justru berlangganan Mombi karena majalah ini bertajuk majalah aktivitas anak.

Setelah satu tahun berlalu, masa langganan Mombi pun habis. Jeda beberapa bulan, kami memutuskan kembali berlangganan majalah, namun kali ini Bobo junior. 

Sedikit perbandingan antara Bobo junior, Bobo, dan Mombi:

Untuk Bobo junior dan Mombi diperuntukkan bagi anak usia tiga tahun ke atas. Walaupun tidak menutup kemungkinan anak dengan usia sebelumnya sudah menyukai isi dari majalah ini. Dan siapa tau anak kita, sudah senang mengerjakan aneka worksheet yang disediakan. Bedanya, Mombi lebih menekankan pada aktivitas anak, sehingga aktivitas yang disediakan pun lebih padat. Seperti jumlah tracing yang lebih banyak, dot to dot huruf hampir di setiap lembar, ada pula langkah kreasi plastisin, bahkan disertai resep memasak sederhana untuk kegiatan ibu dan anak, namun masih disisipkan cerita bergambar dengan tokoh Mombi, Loli, Ayah, Ibu, Luna, Bu Guru Luna, Beru, Belle, Apin, Beno, dan Apin. Sementara, Bobo junior sisipan ceritanya lebih banyak (lebih banyak satu hingga dua cerita saja), namun masih disisipi aktivitas yang sama dengan mombi dengan jumlah yang lebih sedikit. Tidak ada kreasi plastisin dan resep memasak. Tokohnya, tidak beda dari Bobo jaman kita dulu yaitu Bobo, Coreng, Bapak, Emak, Tompel, dan kawan-kawan.
Kesamaannya, selain sama-sama disisipi worksheet juga ada bonusnya yang biasanya melibatkan aktivitas gunting-lipat-tempel. Setiap edisi pasti dapat bonus yang melibatkan aktivitas kurang lebih sama.
Sementara, untuk Bobo diperuntukkan untuk anak usia tujuh tahun ke atas. Cerita yang disisipkan lebih kompleks seperti Putri Nirmala, yang terlalu panjang jika diceritakan ke anak usia balita. Tidak ada worksheet, misal pun ada juga dalam bentuk yang kompleks. Dan di Bobo ini dari dulu hingga sekarang, selalu disisipkan aneka pengetahuan umum yang dimengerti anak usia SD. Sekiranya, belum cocok untuk anak balita, namun sangat bagus untuk anak rentang usia SD.

Hampir terlupa, majalah Mombi juga tersedia untuk anak usia SD yang bertajuk Mombi SD. Namun, saya belum pernah membacanya, jadi belum bisa memberikan tanggapan.

Untuk langganan, Gramedia pustaka sebagai penerbitnya, selalu menyediakan paket langganan enam bulan maupun setahun. Seperti umumnya, untuk setahun akan lebih murah daripada enam bulan. Bonus langganannya pun berbeda, terkadang jika harga sedang promo, untuk langganan enam bulan tidak mendapat bonus.

Jika mau berlangganan, bisa masuk ke commerce.gramediamajalah.com. Disana nanti banyak majalah bagus yang menggoda untuk berlangganan. Kalau saya sih Intisari dan suami saya Auto bild. Bagi yang tinggal di pulau Jawa  tidak ada tambahan ongkos kirim, selain itu ada tambahan Rp 6.000 per eksemplar yang lumayan juga sih selisihnya jika langganan setahun. Apalagi untuk Bobo junior dan Mombi yang terbit tiap dua minggu.

Setiap hal pastilah mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bagi saya, kelebihan dari berlangganan majalah fisik adalah tidak perlu usaha ketika akan menyiapkan worksheet, tidak ada usaha disini dalam artian tidak perlu mencetak lembar kerja yang ingin dikerjakan. Seperti yang saya tulis di atas bahwa printer saya eror dan yang utama adalah Azka selalu ikut "nimbrung" saat saya menggunakan printer. Disisi lain, saya bukan tipe ibu begadang sampai larut malam untuk menyiapkan worksheet. Anak tidur, ibu pun tidur, hahaha. Dengan majalah fisik ini, saya hanya menunggunya datang dan menyiapkan alat tulis. Biasanya juga worksheet belum selesai dikerjakan, sudah datang edisi yang baru. Kekurangannya adalah berhubung ini majalah fisik, maka perlu ruang tersendiri untuk menempatkannya. Apalagi waktu awal berlangganan Mombi, Azka belum bisa dan belum mau mengerjakan worksheet yang ada di dalamnya. Sehingga, saya pun menyimpannya untuk digunakan pada waktu yang tepat. Berbeda dengan worksheet berbentuk soft copy yang bisa disimpan di hard disk.

Lalu, bagaimana dari segi harga? Saya belum pernah berlangganan di akun instagram manapun yang menawarkan paket aktivitas anak. Pun belum pernah bertanya-tanya mengenai harganya. Kalau majalah fisik, tentulah membayar semua di depan plus ongkos kirim jika di luar Pulau Jawa. Dan sepertinya sedikit lebih mahal dibanding toko online karena dicetak full color. Untuk harga bisa dilihat di gambar sebagai contoh, atau masuk ke website-nya langsung karena harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Harga langganan Bobo junior

Bagaimana jika tidak ingin mengeluarkan kocek sama sekali? Bisa saja dengan mecari worksheet printable gratis yang banyak berseliweran di pinterest maupun Googling secara acak. Gunakan saja kata kunci free printable worksheet . . . (titik-titik bisa diisi dengan tema tertentu misal kendaraan, alfabet, huruf hijaiyah, dan sebagainya).

Tidak ada yang benar atau salah dalam pemilihan sumber aktivitas anak. Pun tidak ada yang lebih bagus atau jelek. Yang ada hanyalah cocok dan tidak cocok. Bandingkan saja kebutuhan anak dengan kemampuan kita, nanti akan ditemukan sumber mana yang cocok untuk mendapatkan worksheet.

Worksheet gratis pun bukan berarti jelek dan sebaliknya yang membayar bukan lah yang terbaik. Tergantung bagaimana keadaan kita dan usaha untuk mengenalkannya. Apabila anak kita belum mau mengerjakannya, tidak masalah, kita hanya bertugas mengenalkannya sampai mau. Apabila mau tapi belum sempurna, juga tidak masalah, bandingkanlah dia kemarin dengan yang sekarang. Bukan dibandingkan dengan anak lain.

Yang terpenting adalah kita sekeluarga bahagia menjalankannya. Allah yang melengkapkan semuanya.




Salam Hangat,

Astri
(Bukan pakar parenting)