Saturday, November 18, 2017

Review Buku HOP! Produksi Rabbit Hole ID

Halo,

Mungkin di sini sudah banyak yang punya buku produksi PT. Lubang Kelinci Indonesia, saya sih baru punya satu dan itu dikirim oleh adik ipar dari Jogja (((GRATISAN)))

Sebenarnya sudah lama tertarik sama buku-bukunya, namun harganya yang mencapai lebih dari 100ribu per buku membuat saya tarik ulur untuk membelinya. Karena bisa mendapat beberapa buku  konvensional dengan harga yang sama, hehehe

Sampai suatu hari adik ipar tanya kalau Azka mau dikirimin apa. Langsung saya jawa: BUKU!! Dan dikirimlah buku dari @rabbitholeid yang berjudul HOP!.

Buku ini menceritakan siklus hidup manusia dan hewan. Seperti, dulu ayah dan ibu juga pernah menjadi bayi, anak kecil, orang dewasa, lalu menikah. Ada juga siklus hidup ikan yang berasal dari telur, ikan kecil, ikan "remaja", dan ikan dewasa. Di halaman lain tertulis bahwa kupu-kupu asal mulanya adalah ulat yang berubah menjadi kempompong, baru lah menjadi kupupu. Ada juga siklus hidup monyet.

Tidak ada yang luar biasa dari ceritanya, hanya keunggulan produk rabbit hole ini adalah tampilannya. Selain merupakan board book dengan tinta yang awet, bukunya dilengkapi fitur dorong-tarik-putar-geser. Sehingga anak-anak bisa menggeser-geser yang tandinya anak cewek setelah fiturnya digeser berubah jadi laki-laki.


Alhamdulillah Azka tertarik buku, hanya saja fitur di buku ini membuatnya tertarik terus, bahkan sesaat setelah bangun di pagi hari. Ini dia senyumnya. Masih memakai baju tidur, belum mandi, yang dicari buku @rabbitholeid. Yang penasaran, sila buka instagramnya saja. Sepertinya sudah banyak reseller di berbagai kota. Ngirit ongkir, hehehe



Salam hangat,

Astri



DIY Mainan Something

Halo,

Sudah lama sekali ini ingin ditulis. Namun apa daya tidak pernah kesampaian. Padahal anak baru satu ya, hahaha

Di suatu siang, ketika bingung mau memberikan hiburan apa untuk Azka, akhirnya saya menurunkan karpet Dance Dance Revolution (DDR). Niat hati ingin olah raga bersama Azka.

Oh iya untuk penjelasan, karpet ini fungsinya sama dengan permainan Dance yang ada di Timezone dan sebangsanya. Namun bisa dilakukan di rumah hanya dengan menginstal CD permainan DDR-nya dan menancapkan karpet ini ke laptop.

Ekspektasi saya ketika membeli karpet ini adalah bisa aerobik di rumah. Badan sehat, hati pun senang. Hanya saja, seelah barang datang ternyata tidak seperti yang saya lihat di review produk. Di sana tertulis menginstal CD dan mengaturnya mudah. Tapi tidak untuk saya. Sulit untuk mengatur level dance yang diinginkan, sehingga yang muncul selalu permainan dengan tempo super cepat dan mungkin hanya bisa diikuti oleh dancer profesional.

Akhirnya, mau tidak mau karpet ini hanya teronggok tak berfungsi. Ada niat ntuk mengutak-atik menjadi mainan baru namun belum ada ide, sampai siang itu Azka  membuat mainan dari idenya sendiri.

Ketika itu dia mengambil tutup lem fox PVAC dan tutup gelas. Lalu mengajak saya dan berkata, "Mi, ayo ini pukul-pukulan kayak yang ada di STC".

"Kok pukul-pukulan?", saya kaget karena tidak pernah ada permainan pukul-pukulan yang saya perkenalkan

"Ini lho Mi yang kayak gini", dia mencontohkan

Ini malam harinya, sepulang kerja suami

Barulah saya mengerti. Yang ia maksud adalah mainan semacam tenis yang banyak terdapat di area permainan seperti Timezone. Kunci dari permainan ini adalah meja yang licin karena bisa membuat "bola" mudah untuk bergeser. Di area permainan sendiri, saya amati ada semacam magnet yang akan aktif setelah kita menggesek kartu. Kembali tidak aktif setelah permainan berakhir. Saat aktif "bola" akan mudah meluncur, saat tidak aktif "bola" sama sekali tidak dapat meluncur. Tidak disangka karpet DDR ini memiliki tingkat kelicinan yang tinggi, sehingga tutup lem fox PVAC bisa melesat dengan mudahnya. Kami pun bermain dengan riang. Azka lumayan betah memainkan ini dan diulang-ulang berkali-kali. Beda dengan mainan yang saya buat, paling lama lima menit lalu dilupakan, hahaha

Itu lah sebabnya saya yang suka crafting kadang malas-malasan membuat permainan karena anaknya sendiri suka buat mainan  yang lebih diminati, haha.


Salam hangat,

Astri

Plesetan

Halo,

Akhirnya mengisi lagi di blog ini setelah hampir dipenuhi sarang laba-laba, haha.

Postingan kali ini tidak ada fotnya karena terjadi begitu saja. Terkadang waktu memasa atau sedang di atas motor, atau sedang makan. Posisi yang sedang tidak memegang ponsel.

Di Jogja, istilah plesetan sudah akrab di dengar. Mungkin di daerah lain juga sudah, hanya saja di percakapan sehari-hari masyarakat Jogja umumnya diselingi dengan plesetan. Bahkan kalau di rumah saya bisa terjadi sewaktu-waktu dan akan semakin ramai pada jam makan karena satu keluarga berkumpul di meja makan, saling bercengkrama.

Mengubah suatu kata menjadi kata lain yang mirip-mirip adalah definisi dari plesetan. Misalkan seperti pada percakapan si A dan si B berikut:

A: Heh B, kamu bawa cemilan apa?
B: Aku bawa cemilan, cepuluh, cebelas

Dan kalau di Jogja ini bisa bersambung terus-menerus. Hiburan gratis sekaligus melatih kreatifitas, hehe.

Di rumah saat ini, kami ya kadang-kadang menggunakan plesetan untuk intermeso obrolan. Lucunya, Azka bisa membuat plesetan sendiri yang saya juga tidak tahu dari mana ia mendapatkan ide. Berikut beberapa contoh yang saya ingat ya. Azka (A) dan saya (M):

A: Mami, ini yang untuk buat pensil supaya nggak bujel (tumpul/patah) namanya apa?
M: Peraut
A: Kok dia kerjanya di Rumah Sakit?
M: Itu perawat
A: (((tertawa)))

dialog lain

M: Wah jam segini gelap gulita sudah ya. Biasanya kalau nggak mendung masih terang-terang aja
A: Gulita artinya apa Mi?
M: Gelap gulita artinya gelap sekali
A: Gulita yang binatang tangan banyak itu?
M: Itu gurita
A: (((tertawa)))

dialog lain lagi

A: Mami ini galonnya bisa ditiup? (sambil membawa galon kosong)
M: Yang ditiup namanya balon
A: (((tertawa)))

Sebenarnya ada banyak lagi, hanya saja saya lupa, hehehe. Awalnya saya kira ia hanya salah pengucapan dan salah mendefinisikan. Namun, selalu setelah saya betulkan, ia langsung tertawa. Berarti sepenangkapan saya, sebenarnya Azka tahu artinya cuma memang sedang plesetan.

Yang belum tahu rasanya berkreatifitias dengan plesetan, sila mampir Jogja. Duduk di angkringannya, maka akan ada sekumpulan orang yang tidak saling kenal, bahkan baru bertemu detik itu, namun sudah saling mengobrol lengkap dengan plesetannya. Kalau beruntung, obrolan akan berlanjut ke politik, seni, bahkan bedah buku



Salam hangat,

Astri